Perjalanan Eks Walkot Mojokerto Hingga Berakhir di Penjara Gegara Kasus Suap

Perjalanan Eks Walkot Mojokerto Hingga Berakhir di Penjara Gegara Kasus Suap

Enggran Eko Budianto - detikNews
Kamis, 27 Agu 2020 21:09 WIB
Wali Kota Mojokerto Masud Yunus
Eks Walkot Mojokerto wafat (Foto: Enggran Eko Budianto/detikcom)
Mojokerto - KH Mas'ud Yunus atau Kiai Ud dikenal sebagai ulama yang mempunyai banyak jemaah di Kota Mojokerto. Namun, karirnya di dunia politik tidak berjalan mulus karena tersandung kasus suap pada tahun 2017.

Kiai Ud menjabat Wali Kota Mojokerto bersama wakilnya Suyitno setelah menang Pilkada 2013. Sebelum itu, bapak 4 anak ini menjabat Wakil Wali Kota Mojokerto mendampingi Abdul Gani Soehartono periode 2008-2013.

Pengalaman pertama Kiai Ud memimpin Kota Mojokerto rupanya tidak berjalan mulus. Suami Siti Amsah ini tidak sempat menuntaskan tugasnya sampai akhir masa jabatan 2018. Karena dia lebih dulu terseret kasus suap terhadap pimpinan DPRD Kota Mojokerto.

Kasus itu berawal dari operasi tangkap tangan (OTT) KPK di Kota Mojokerto pada Jumat malam hingga Sabtu dini hari, 16-17 Juni 2017. Saat itu tim dari lembaga antirasuah meringkus Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Mojokerto Wiwiet Febryanto dan 3 pimpinan DPRD Kota Mojokerto.

Wiwiet tertangkap tangan saat menyuap 3 pimpinan DPRD Kota Mojokerto kala itu. Yakni Ketua DPRD Purnomo, serta dua wakilnya Abdullah Fanani dan Umar Faruq. KPK juga menyita uang suap Rp 470 juta. Keempatnya ditetapkan tersangka dan ditahan dalam kasus suap pembahasan P APBD 2017 pada 17 dan 18 Juni 2017.

Sementara Kiai Ud ditetapkan tersangka oleh KPK dalam kasus suap terhadap pimpinan DPRD Kota Mojokerto pada 17 November 2017. Itu setelah anak buahnya, Wiwiet divonis 2 tahun penjara dan denda Rp 250 juta subsider 6 bulan kurungan oleh Pengadilan Tipikor Surabaya pada 10 November 2017.

Tiga pimpinan DPRD Kota Mojokerto yang menerima suap dari Mas'ud dan Wiwiet diadili di Pengadilan Tipikor Surabaya pada 5 Desember 2017. Mereka menerima vonis yang sama. Yaitu penjara selama 4 tahun dan denda Rp 200 juta subsider 3 bulan kurungan.

Namun, Kiai Ud baru ditahan oleh KPK pada 9 Mei 2018. Dia mendapatkan vonis 3,5 tahun penjara dan denda Rp 250 juta subsider 2 bulan kurungan dari Pengadilan Tipikor Surabaya pada 4 Oktober 2018. Sejak saat itu dia dijebloskan ke Lapas Kelas I Surabaya di Porong, Sidoarjo. Hak berpolitiknya juga dicabut selama 3 tahun.

Kiai Ud diperkirakan bebas pada November 2021. Namun, takdir berkata lain. Dia meninggal dunia di RS Mitra Keluarga, Sidoarjo siang tadi pukul 12.03 WIB. Pria 68 tahun ini dinyatakan positif COVID-19 satu hari sebelumnya. Dia sempat menderita batuk dan sesak nafas.

Jika dihitung sejak penahanan KPK, maka Kiai Ud telah menjalani hukuman 2 tahun tiga bulan dan 18 hari di balik jeruji besi. Jenazahnya dimakamakan di makam keluarga yang berada di dalam pemakaman Islam Kelurahan Surodinawan pukul 18.30 WIB dengan protokol COVID-19. (fat/fat)