Trauma Ledakan Pabrik Bioetanol di Mojokerto, Ini Aspirasi Warga Terdampak

Enggran Eko Budianto - detikNews
Jumat, 14 Agu 2020 15:26 WIB
pabrik bioetanol di mojokerto
Pabrik Bioetanol Mojokerto (Foto: Enggran Eko Budianto/detikcom)
Mojokerto -

Meledaknya tangki di pabrik bioetanol di Mojokerto PT Energi Agro Nusantara (Enero) membuat trauma warga sekitarnya. Mereka meminta anak perusahaan PTPN X itu membangun pagar pengaman.

Trauma salah satunya dirasakan Nur Hani, warga RT 8 RW 2 Dusun Sukosewu, Desa Gempolkrep, Kecamatan Gedeg. Janda dua anak ini merasakan kerasnya getaran akibat ledakan pada Senin (10/8) sore. Padahal, rumahnya sekitar 500 meter di sebelah utara tangki PT Enero yang meledak.

"Tembok sebelah pintu sampai terbelah, tembok dalam kamar retak, rumahnya goyang kaya gempa," kata Hani kepada detikcom di rumahnya, Jumat (14/8/2020).

Takut terjadi ledakan susulan, Hani bersama dua anak dan ibunya memilih mengungsi satu malam ke rumah kenalannya di Desa Bandung, Kecamatan Gedeg. Keesokan harinya, dia pulang karena pemerintah desa mengumumkan situasi sudah aman. Namun, trauma akibat ledakan tangki bioetanol masih membuatnya trauma sampai hari ini.

"Saya takut kalau meledak lagi, utamanya tangki yang besar ini. Ini masih trauma sampai tidak bisa tidur," ujar Hani sembari menunjuk ke arah dua tangki raksasa milik PT Enero yang letaknya hanya sekitar 50 meter dari tempat tinggalnya.

Hani tinggal di dekat pabrik bioetanol sejak 2011 silam. Sejak insiden ledakan tiga hari lalu, dia dihantui rasa khawatir akan ledakan susulan. Di lain sisi, dia belum mempunyai biaya untuk pindah dari rumahnya.

"Mau pindah tidak punya uang. Saya cuma buka warung kopi. Anak pertama kerja tapi masih nganggur gegara Corona," cetusnya.

Trauma juga dirasakan Isnainiyah (36), warga RT 8 RW 2 Dusun Sukosewu. Apalagi rumahnya hanya berjarak sekitar 25 meter dari dua tangki raksasa milik PT Enero.

"(Tangki yang meledak) yang jauh saja sudah menakutkan ledakannya. Setiap hari selalu tidak bisa tenang, tidur tidak bisa nyenyak karena khawatir terjadi lagi. Yang saya takutkan yang depan rumah ini, kan itu besar-besar tangkinya," jelas ibu satu anak ini.

Suami Isnainiyah, Supardi (49) menilai, PT Enero belum membangun sistem keamanan yang memadai jika setiap saat terjadi ledakan. Salah satunya pagar pembatas antara area pabrik dengan permukiman penduduk. Pagar dari besi dengan ketinggian 2 meter itu masih banyak celah yang bisa dilewati semburan api.

Selanjutnya
Halaman
1 2