Pandemi COVID-19, Penggunaan Listrik di Sektor Rumah Tangga Naik 12,42%

Hilda Meilisa - detikNews
Rabu, 12 Agu 2020 21:09 WIB
Tiang Listrik Sutet. dikhy sasra/ilustrasi/detikfoto
Foto: dikhy sasra

Data pada April 2020, penurunannya hingga 6%. Kemudian pada Mei 2020 mencapai 6,9%. Sementara di bulan Juni minus 1,7% dan Juli minus 1,1%.

Hal ini juga berpengaruh pada tren penjualan per tarif yang berubah. Agung menyebut imbauan bekerja dari rumah dan pemberlakuan PSBB berdampak pada penurunan kontribusi kWh jual tarif industri.

Pada Januari 2020, kontribusinya sebesar 41,24% dan turun menjadi 37,88% pada Juni 2020. Sebaliknya, kontribusinya tarif rumah tangga meningkat dari 38,32% pada Januari menjadi 43,41% di Juni 2020.

"Namun di periode transisi menuju new normal, aktivitas perekonomian di Jatim kembali bergerak sehingga terdapat kenaikan di tarif industri dan tarif bisnis pada Juni dibanding Mei," lanjut Agung.

Selain itu, dampak pandemi COVID-19 dan pemberlakuan PSBB juga berpengaruh pada banyaknya permintaan turun daya dan berhenti sementara. Terutama pada pelanggan tarif bisnis dan industri.

Agung menyebut pada April hingga Juli 2020, jumlah delta turun dan berhenti mencapai 125 MVA. "Potensi kWh yang tidak terserap dengan turun daya dan berhenti sementara hingga Juli 2020 diperkirakan mencapai 30 juta kWh," ungkap Agung.

Dari data yang dihimpun, kapasitas pembangkit listrik di Jawa Timur saat ini mencapai 8.859 MW. Kemudian, beban puncak kelistrikan Jatim hanya 5.378 MW. Jatim juga mensupply listrik ke Jawa Tengah sebesar 509 MW, dan ke Bali sebesar 223 MW. Artinya, Jatim masih surplus listrik sebesar 2.749 MW.

Halaman

(hil/iwd)