Survei SMRC Sebut Tingkat PHK Jatim Terendah se-Jawa, Hanya 4%

Hilda Meilisa - detikNews
Kamis, 06 Agu 2020 19:53 WIB
gubernur khofifah
Gubernur Khofifah (Foto: Hilda Meilisa Rinanda)
Surabaya -

Hasil survei nasional Saiful Mujani Research Center (SMRC) menyebut tingkat pemutusan hubungan kerja (PHK) di Jawa Timur terendah se-Jawa. Persentase pegawai yang di-PHK hanya berkisar di angka 4%

Hal ini jauh di bawah DKI Jakarta dan Banten yang mencapai 31%. Sedangkan di Jawa Tengah dan DIY berkisar di angka 18%, dan Jawa Barat 12%.

Menanggapi hasil survei ini, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengungkapkan rasa syukurnya. Menurut Khofifah, gelombang PHK yang terjadi selama pandemi COVID-19 tidak terlalu besar menerpa Jatim.

Hal ini diketahui lantaran kohesifitas dunia usaha yang berseiring dengan pemenuhan hak buruh. Khofifah menyebut baik pengusaha maupun pekerja, mau duduk bersama dan berdialog mencari solusi menguntungkan kedua belah pihak.

Khofifah menambahkan ini penting agar kondisi keuangan perusahaan dapat dimengerti para pekerja, dan pengusaha dapat mendengar langsung aspirasi yang diinginkan pekerja.

"Alhamdulillah. Terima kasih kepada para pengusaha yang menjadikan kebijakan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sebagai langkah terakhir. Ini berkat jalinan komunikasi yang baik antara pengusaha dan pekerja," kata Khofifah di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Kamis (6/8/2020).

Khofifah pun optimistis melihat hasil survei ini. Khofifah ingin ekonomi Jatim bisa jauh lebih cepat bangkit saat penerapan adaptasi kebiasaan baru.

Tak hanya itu, Khofifah menambahkan saat ini Pemprov Jatim tengah melakukan identifikasi secara cermat sektor-sektor mana saja yang terkena dampak paling parah. Identifikasi ini juga mengenai sektor yang bertahan, dan sektor yang justru bisa mengambil peluang.

"Kami tengah menyiapkan strategi pemulihan. Bukan hanya usaha kecil, menengah, dan besar saja yang menjadi perhatian, tapi juga mikro bahkan ultra mikro," imbuhnya.

Sebelumnya, SMRC menyelenggarakan survei nasional dengan menggunakan wawancara telepon pada 2.211 responden yang terpilih melalui metode random sampling pada 22 hingga Juli 2020. Margin of error survei diperkirakan 2,1%.

Berdasarkan survei nasional itu, diketahui sekitar 15,2% warga mengalami PHK pada masa COVID-19. Jika terdapat 190 juta orang dewasa, jumlah warga yang terkena PHK akibat COVID-19 ini sekitar 29 juta orang. Untuk sebaran warga yang mengalami PHK pun cukup merata, yakni ada di seluruh lapisan usia, pendidikan, dan pendapatan.

(hil/iwd)