Badan Karantina Pertanian Ekspor Komoditas Senilai Rp 470 Miliar

Amir Baihaqi - detikNews
Jumat, 24 Jul 2020 20:03 WIB
Kementerian Pertanian melalui Balai Besar Karantina Pertanian (BBKP) Surabaya memusnahkan komoditas pertanian atau media pembawa hama penyakit hewan karantina (HPHK) dan organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK). Tak hanya itu, komoditas tersebut juga masuk secara ilegal.
Badan Karantina Pertanian mengekspor ratusan komoditas pertanian, perkebunan dan peternakan/Foto: Amir Baihaqi
Surabaya -

Badan Karantina Pertanian mengekspor ratusan komoditas pertanian, perkebunan dan peternakan. Total nilai komoditas yang diekspor mencapai Rp 470 miliar.

Kepala Badan Karantina Pertanian Ali Jamil mengatakan, Rp 423 miliar di antaranya merupakan komoditas pertanian. Sedangkan sisanya komoditas non-pertanian.

"Alhamdulillah hari ini kita melepas ekspor lagi dari Jatim. Ini berbagai komoditas yang lebih dari 100 komoditas. Dan tadi berangkat ke puluhan negara tujuan dan nilainya itu Rp 423 miliar itu komoditas pertanian yang paling besar," beber Ali kepada wartawan, Jumat (24/7/2020).

Menurut Ali, meski dunia dilanda pandemi COVID-19, namun hal itu tidak mempengaruhi secara signifikan persentase ekspor komoditas pertanian. Bahkan dari data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor dari periode per tahun ini saja masih meningkat 15 persen.

"Seperti yang dirilis BPS bahwa data ekspor kita di periode Juni ke Juni tahun lalu ada lebih dari 15 persen. Itu bisa kita lihat dan nilai total dari Januari ke Juni ada peningkatan," ungkap Ali.

"Kami juga tidak punya target selama pandemi tapi paling tidak terus ada peningkatan.

Lebih lanjut Ali menjelaskan, meski tak mempunyai target, namun peningkatan itu dikarenakan keberhasilan program Gratieks (gerakan tiga kali ekspor). Program itu merupakan gagasan dari Menteri Pertanian Syahril Yasin Limpo.

"Yang pasti kalau target kan begini. Ada programnya Pak Menteri Pertanian. Untuk terkait ekspor ada namanya Gratieks yakni gerakan tiga kali ekspor. Tentunya dalam periode 5 tahun sampai 2024. Standing-nya 2019 itu bisa lebih dari 300 persen," pungkasnya.

(sun/bdh)