Struktur Batu Bata Kuno Diduga Era Mpu Sindok Ditemukan di Malang

Muhammad Aminudin - detikNews
Kamis, 23 Jul 2020 21:29 WIB
struktur batu bata kuno
Struktur batu bata kuno yang ditemukan (Foto: Muhammad Aminudin)
Malang -

Struktur batu bata kuno ditemukan warga di kebun singkong, Desa Langlang, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Penelitian awal mengungkap material batu bata berbeda dengan penemuan sebelumnya. Dugaan awal dibangun pada 9 atau 10 Masehi atau masa Mpu Sindok.

Batu bata yang ditemukan memiliki ukuran panjang 38 sentimeter, lebar 28 sentimeter dengan ketebalan 10 sentimeter. Batu bata kuno tersebut awalnya ditemukan oleh petugas Pendaftaran Tanah Sistematik Lengkap (PTSL) saat melakukan pengukuran lahan di desa setempat.

Dan hari ini, Komunitas Jelajah Jejak Malang, tim PTSL, Muspika Singosari dan BPCB Jawa Timur melakukan pengamatan langsung di lokasi temuan batu bata.

Akhmad Firdaus, salah satu tim PTSL yang awal mula menemukan batu bata kuno mengatakan, atas seizin pemilik lahan kemudian dilakukan pengelupasan permukaan tanah bersama Komunitas Jelajah Jejak Malang. Ketika awal hanya menemukan satu bata kuno berukuran besar di tengah ladang singkong milik warga.

"Dan struktur batu bata kami temukan dalam kedalaman 10 sentimeter sampai 20 sentimeter dengan ukuran panjang 38 sentimeter, lebar 28 sentimeter serta ketebalan 10 sentimeter. Dan kami hanya mengelupas lapisan tanah seluas 3 meter persegi, jadi belum tahu seberapa luas sesungguhnya," terangnya ditemui awak media di lokasi, Kamis (23/7/2020).

Menurut Firdaus, pihaknya juga menemukan sebuah batu lumpang ketika menelusuri sisi barat dari lokasi struktur batu bata. Jaraknya hanya sekitar 100 meter, batu lumpang tersebut memiliki diameter 70 sentimeter dan tinggi 45 sentimeter. Sementara lubang ceruk batu lumpang berdiameter 20 sentimeter dengan kedalaman 15 sentimeter.

"Bentuk batu lumpang tidak bulat silinder, pada permukaan atas terdapat batu dakon dengan 12 lubang. Di sisi kanan kiri lobang ceruk terdapat masing-masing 2 sayatan batu gores. Ada cerat air yang mengarah ke luar dari lobang ceruk. Pada salah satu sisi samping batu lumpang seolah berbentuk kepala hewan," terangnya.

Sementara itu, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur menyebut, batu bata dengan ukuran sebesar itu adalah yang pertama kali ditemukan di wilayah Malang Raya.

Plt Kepala Seksi Perlindungan, Pengembangan dan Pemanfaatan Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur Nugroho Harjo Lukito mengungkapkan, hasil pengamatan yang dilakukan hari ini menegaskan, bahwa memang ada dugaan struktur batu bata kuno yang memiliki kriteria cagar budaya.

"Kalau untuk periodesasinya kita belum bisa tentukan, hanya jika melihat dari sisi analogi komperehensif dari material batu bata memiliki ketebalan yang tidak biasa, yakni 10 sentimeter. Bisa jadi struktur ini dibangun pada era Mataram Kuno atau pra Kerajaan Singhasari.

"Atau pada masa Mpu Sindok. Dan telah banyak temuan cagar budaya di masa itu yang menjadi kawasan linier di sepanjang Malang sisi utara sampai dengan mengarah ke Kota Batu," ungkap Nugroho.

Nugroho menambahkan upaya penyelamatan situs akan dikoordinasikan dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintahan desa, kecamatan sampai dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang.

"Sebagai upaya pelestarian dan juga penyelamatan akan dikoordinasikan agar dapat lebih detil mengetahui struktur batu bata yang ditemukan. Apakah juga nanti bisa dijadikan sebagai destinasi pariwisata," pungkasnya.

(iwd/iwd)