Jalur Pendakian Gunung Lawu Ditutup Setelah Ada Pendaki yang Meninggal

Sugeng Harianto - detikNews
Selasa, 07 Jul 2020 12:25 WIB
pendaki via cemoro sewu mulai turun
Jalur pendakian Cemoro Sewu (Foto: Sugeng Harianto)
Magetan -

Jalur pendakian ke puncak Gunung Lawu ditutup sementara. Itu dilakukan setelah adanya pendaki warga Karanganyar Jateng yang dilaporkan hilang dan ditemukan meninggal.

"Saat ini masih ditutup pascainsiden pendaki yang dilaporkan hilang kemarin," ujar Asper Lawu Selatan KPH Lawu Marwoto saat dikonfirmasi detikcom, Selasa (7/7/2020).

Penutupan jalur pendakian, kata Marwoto, sudah dilakukan sejak Senin (6/7) pukul 17.00 WIB usai adanya pelaporan hilangnya pendaki. Penutupan yang berlaku, lanjut Marwoto, untuk semua jalur pendakian baik Cemoro Sewu, Cemoro Kandang, Candi Ceto, dan jalur lainnya.

"Sejak sore kemarin kita tutup. Mengingat kondisi ada insiden pendaki yang hilang. Dan berlaku di semua jalur," katanya.

Marwoto mengatakan padahal jalur pendakian via Cemoro Sewu telah dibuka sejak 24 Juni 2020 usai ditutup saat wabah Corona. Untuk pembukaan kembali pihaknya akan berkoordinasi dengan semua pengelolaan pendakian.

"Ini baru dibuka kemarin 24 Juni 2020 sejak penutupan setelah ada Corona. Saat ini kembali kami tutup dan untuk dibuka masih menunggu dibahas bersama," paparnya.

Sebelumnya, satu dari enam pendaki yang masuk melalui Cemoro Sewu Magetan dilaporkan hilang dan ditemukan meninggal. Pendaki itu adalah Andi Sulis Setiawan (18), warga Dukuh Sepelem Desa Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar Jateng. Jenazah Andi telah dievakuasi dan dimakamkan dini hari tadi oleh keluarga.

Andi berangkat berenam mendaki ke puncak Lawu melalui Cemoro Sewu Magetan Sabtu (4/7) pukul 16.00 WIB. Kelima rekan Andi yang sudah turun lebih dahulu merupakan warga Karanganyar Jateng yakni Nurhayati (17), warga Urukan Kecamatan Karangpandan; Erfan Hermanto (22), warga Kelurahan Kemuning; Fajar Nurhadi (19), warga Desa Telobo, Kecamatan Ngargoyoso; Muhammad Tri Danu Mahardika (17), Desa Krapyak Kecamatan Matesih; dan Tegar Eka Prasetya (16), warga Desa Karangpandan.

(iwd/iwd)