Kata Pakar Politik Soal Peluang Eri Cahyadi dalam Pilwali Surabaya 2020

Amir Baihaqi - detikNews
Minggu, 05 Jul 2020 18:30 WIB
Eri Cahyadi
Eri Cahyadi saat mendampingi Risma (Foto: Amir Baihaqi)
Surabaya -

Bakal Calon Wakil Wali Kota (Bacawawali) Surabaya dari PDI Perjuangan Armuji resmi mundur dari Pilwali Surabaya 2020. Padahal Armuji sempat mendeklarasikan diri mendampingi Eri Cahyadi sebagai Cawawali.

Lalu bagaimana dengan rencana dan peluang Eri Cahyadi yang disebut-sebut sebagai suksesor Wali Kota Tri Rismaharini?

Guru besar ilmu sosial dan politik Unair Prof Dr Bagong Suyanto mengatakan peluang Eri maju dalam Pilwali 2020 paling memungkinkan dari PDIP. Meski begitu, Eri harus bersaing dengan kandidat lainnya dari internal PDIP seperti Whisnu Sakti Buana yang lebih dahulu terang-terangan mencalonkan diri sebagai cawali.

"Yang menjadi masalah itu sejauh mana dia merepresentasikan suara PDIP kan. Dan satu-satunya kekuatan politik (partai) yang memungkinkan kan itu. Ya tapi di internal PDIP sendiri kan juga ada beberapa kandidat yang juga bersaing," kata Bagong.

"Jadi pasti ada kontestasi yang ketat dengan Whisnu. Karena posisi Whisnu sendiri kan wawali," tambah Bagong.

Menurut Bagong, pilihan dilematis itu karena meski Eri Cahyadi merupakan seorang birokrat, namun juga dianggap sebagai representasi penerus Risma. Ia memprediksi jika rekomendasi nanti jatuh ke Eri, maka gejolak di internal partai yang dipimpin Megawati itu tak terhindarkan.

"Kalau melihat posisi kepengurusan Bu Risma di pusat mungkin saja kekuasaan ikut menentukan minimal mewarnai. Tapi gejolak internal PDIP juga harus dilihat kalau rekomnya jatuh ke Eri," terangnya.

"Dan ini beda dengan Gibran yang di Solo. Karena anaknya Jokowi. Kalau di Surabaya kan Eri bukan putra mahkota yang punya cantolan kuat. Iya benar (dianggap penerus Risma) tapi kan bukan sekuat Gibran," imbuh Bagong.

"Ini kalau menurut saya pilihan dilematis yang dihadapi oleh PDIP," ujarnya lagi.

Sementara itu, menanggapi mundurnya Armuji dari kandidat di internal PDIP, Bagong menilai langkahnya sudah cukup bijak. Sebab, walau mengaku pencalonannya dijegal, namun Armuji tidak menyebut secara langsung siapa yang dimaksudnya.

"Kita tidak tahu yang ada di dalam (internal PDIP). Tapu kalau sampai mundur berarti memang ada friksi-friksi yang kuat di internal," tukas Bagong.

"Armuji sendiri ya cukup bijak tidak mengekspos alasan yang sesungguhnya. Ini kan demi partai juga. Kan dia tidak menyebut sampai ke atas (nama)," pungkasnya.

(iwd/iwd)