Round-Up

Aksi Sujud Risma Soal Corona yang Hebohkan Surabaya

Tim Detikcom - detikNews
Minggu, 05 Jul 2020 08:37 WIB
Wali Kota Risma nangis-nangis dan sujud saat audiensi bersama IDI Jatim dan IDI Surabaya. Dia mengaku goblok dan tak pantas menjadi wali kota.
Risma sujud di hadapan IDI Surabaya (Foto: Esti Widiyana/detikcom)

Menurutnya, apa yang dilakukan Risma sujud belum tentu membangun persepsi baik di mata masyarakat, bahkan bisa sebaliknya.

"Model semacam itu, bisa dua kemungkinan. Orang bisa simpati atau antipati. Pendukungnya akan push bela mati-matian dan yang anti akan sebaliknya. Seorang pemimpin harusnya berada pada kematangan psikologi, kematangan komunikasi," lanjutnya.

Sementara Pakar Sosiologi Unair Prof Dr Bagong Suyanto menjelaskan aksi Risma sujud bukan permohonan maaf, tapi lebih pada ekspresi kejengkelannya. Hal itu bisa dilihat dari apa yang diucapkan saat peristiwa itu terjadi.

"Nah kalau saya lihat bukan meminta maaf ya. Tapi lebih pada jengkel toh. Wong dia kan ngomongnya 'saya goblok, saya goblok, saya tidak pantas jadi wali kota'. Kan bukan orang meminta maaf tapi itu lebih pada ekspresi kejengkelan orang," urainya.

Bagong menyebut pemimpin itu sebenarnya kualitasnya dinilai dari seberapa jauh dia mampu menggerakkan sumber daya yang dimiliki.

"Tapi kelihatannya Bu Risma ini tipe kepemimpinannya lebih mengandalkan pada pendekatan yang sifatnya personal ya. Artinya lebih pada dia. Itu yang membuat seolah-olah beban itu ditanggung oleh Bu Risma sendirian," kata Bagong.

Bagong menilai, gaya kepemimpinan dengan pendekatan personal sebenarnya tidak masalah jika diterapkan ke dalam otoritasnya. Namun hal itu akan menjadi persoalan ketika diterapkan di luar otoritasnya.

"Menghadapi anak buahnya ndak masalah, karena dia bisa memerintah kan. Tapi ketika berhubungan di luar otoritasnya itu yang akan menjadi masalah. Karena tidak semua orang kan bisa dikendalikan," jelasnya.


(fat/fat)