Sebelum UTBK, Pengawas dan Panitia di Universitas Brawijaya Rapid Test

Muhammad Aminudin - detikNews
Jumat, 03 Jul 2020 19:35 WIB
pengawas utbk di UB dirapid test
Pengawas UTBK UB jalani rapid test di Gedung Samanta Krida (Foto: Istimewa)
Malang -

Jelang pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Universitas Brawijaya (UB) menggelar rapid test bagi tenaga pengawas dan panitia. Kurang lebih 1.000 pengawas dan panitia akan mengikuti serangkaian tes kesehatan ini.

Rapid test bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan. Sesuai jadwal UTBK akan dilaksanakan pada 5-12 Juli 2020 mendatang, untuk Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMTPN).

Rapid test ini merupakan langkah serius UB untuk mencegah meluasnya penyebaran COVID-19. Selain itu, untuk memastikan kesehatan pengawas ujian dan panitia dalam kondisi prima menjelang dilaksanakannya UTBK beberapa hari ke depan.

Koordinator pelaksana rapid test UB Dokter Syifa Mustika, Sp.PD-KGEH selaku koordinator pelaksana rapid test UB berharap kegiatan ini tidak membuat panitia dan pengawas khawatir.

"Semua panitia pengawas terdaftar akan diambil sampel darah kapiler, dilanjut dengan pemeriksaan kesehatan sederhana. Harapannya pemeriksaan ini bukan untuk menakuti, melainkan sebaik-baiknya untuk upaya menjaga kesehatan panitia dan pengawas," jelas Syifa dalam keterangannya, Jumat (3/7/2020).

Hasil tes, menurut Syifa, akan diserahkan secara kolektif kepada rektorat untuk segera ditindaklanjuti. Terpisah Staf Khusus Menteri Kesehatan Bidang Peningkatan SDM Kesehatan, dr. Mariya Mubarika mengatakan bahwa Kementerian Kesehatan sangat mendukung apa yang dilakukan oleh UB dalam melakukan rapid test untuk sivitas akademika terutama menghadapi UTBK.

"Pemeriksaan rapid test di UB bukan sekedar mencari siapa yang reaktif, tapi juga mencari pola bagaimana sistem pembelajaran yang baik di masa new normal dan kami dari Kemenkes sangat mendukung ide-ide dan usaha-usaha UB untuk membantu mencari apa yang terbaik untuk proses pembelajaran. Semoga nanti yang dihasilkan bisa menjadi regulasi pembelajaran di era new normal agar peserta didik mahasiswa aman, yang ngajar juga aman," kata Mariya.

(iwd/iwd)