Viral Video Pasien di Rumah Karantina COVID-19 Protes Bupati Jombang

Enggran Eko Budianto - detikNews
Selasa, 30 Jun 2020 19:29 WIB
Viral Video Pasien di Rumah Karantina COVID-19 Protes Bupati Jombang
Salah satu pasien yang melakukan video call dengan Bupati Jombang (Foto: Tangkapan layar)
Jombang -

Video pasien memprotes Bupati Jombang terkait buruknya pelayanan di rumah karantina COVID-19 viral di media sosial. Para pasien juga mengeluhkan tidak adanya perhatian pemerintah terhadap keluarga yang mereka tinggalkan di rumah.

Video berdurasi 13 menit 8 detik itu salah satunya beredar melalui grup Facebook di Jombang. Video ini diunggah akun Amal Indrawan pada Minggu (28/6) pukul 10.10 WIB. Sampai saat ini, posting-an tersebut sudah dibagikan 10.145 kali, disukai 4.789, serta menuai 207 komentar dari warganet.

Dalam video ini terlihat seorang pria berjaket merah duduk di kursi sambil berkomunikasi dengan Bupati Jombang Mundjidah Wahab melalui panggilan video. Pasien yang mengaku bernama Kadir, warga Desa Mundusewu, Kecamatan Bareng, Jombang, ini menyampaikan sejumlah keluhan dan protes keras kepada Mundjidah. Dia mewakili pasien lainnya di rumah karantina tersebut.

Video ini rupanya direkam di rumah karantina COVID-19 Tennis Indoor, Jalan Kusuma Bangsa, Desa Jombatan, Kecamatan Jombang. Rumah karantina tersebut menampung pasien yang reaktif berdasarkan hasil rapid test serta pasien positif Corona tanpa gejala klinis. Mayoritas pasien berasal dari Peterongan, Jombang.

"Ada yang anaknya umur 2 tahun tidak ada yang mengurus, ada yang ibunya sakit-sakitan tidak diurus. Jadi, intinya kebutuhan di rumah tidak ada yang memenuhi. Katanya desa bawa beras, bawa ini, faktanya mana? Ga onok. Mereka mau makan opo? Contoh, ini laki-lakinya semua di sini, anaknya dan istrinya di mana? Makan apa? Wong nggak ada jaminan dari desa. Malah dikucilkan dari masyarakat desa," kata Kadir kepada Bupati Jombang seperti dikutip detikcom, Selasa (30/6/2020).

Ia juga menyampaikan terdapat tiga anak-anak yang dikarantina tanpa orang tua mereka. Orang tua ketiga anak usia 2,5, 4, dan 5 tahun itu berada di rumah karena dinyatakan bebas Corona. Mereka diasuh oleh pasien lainnya di rumah karantina tersebut.

"Pemenuhan kebutuhan sehari-hari, Bu, untuk keluarga yang ditinggalkan tolong sanget. Ini kalau yang dikarantina ada 10, satu orang keluarganya 4, yang mati yang 40 orang, bukan yang 10. Karena nggak mangan (makan). Juga tidak ada petugas yang menyemprot disinfektan di sini," ungkap Kadir.

Ia juga memprotes perlakuan terhadap pasien tanpa gejala klinis. Menurut Kadir, banyak orang tanpa gejala (OTG) yang diisolasi di rumah karantina dipecat dari tempat kerjanya. Penyebabnya tidak lain hasil tes swab yang terlalu lama.

"Bila perlu, usulannya, kalau memang disuruh tidur di sini berlama-lama, tidak masalah asalkan yang OTG digaji tiap bulan Rp 5 juta. Setahun pun saya mau tidur di sini. Orang sehat segar bugar begini," ujarnya.

Tidak hanya itu, Kadir juga menyampaikan langsung ke Bupati Mundjidah terkait buruknya pelayanan kepada para pasien di rumah karantina COVID-19 di Tenis Indoor. Mulai pasokan vitamin yang kurang, pasien OTG dijadikan satu dengan pasien positif Corona, hingga tidak adanya dokter spesialis yang datang memantau kondisi mereka di rumah karantina.

Tonton video '10 Juta Kasus COVID-19, dr. Reisa: Gambaran Dunia Tanpa Imunitas':

selanjutnya Selanjutnya
Halaman
1 2