Mengandung Bakteri, Pedagang Pasar Tradisional Surabaya Enggan Jual Jamur Enoki

Esti Widiyana - detikNews
Senin, 29 Jun 2020 17:15 WIB
Pedagang pasar tradisional maupun modern di Surabaya enggan menjual jamur enoki
Penjual jamur enoki di pasar tradisional (Foto: Esti Widiyana/detikcom)
Surabaya -

Pedagang pasar tradisional maupun modern di Surabaya enggan menjual jamur yang disebut-sebut mengandung bakteri listeria. Jamur enoki berbahaya jika dikonsumsi anak, ibu hamil, lansia dan orang yang memiliki imun tubuh lemah.

Mereka mengaku rela rugi daripada pelanggannya sakit dan menyebabkan dagangannya tak laku. Seperti yang diungkapkan Evi cholifah (38), pedagang di Pasar Soponyono. Dia memilih menjual jamur kancing, jamur tiram, simeji, partabela, dari pada menjual jamur enoki.

"Saya hentikan dulu sementara sampai ada pemberitahuan boleh menjual jamur enoki," kata Evi kepada detikcom, Senin (29/6/2020).

Dia mengaku memilih tidak menjual daripada pelanggannya sakit karena makan jamur enoki. Dirinya pun kembali menjual jamur yang biasa tumbuh di Indonesia. Meski dirinya tidak tahu tidak semua jamur enoki berbahaya.

"Rugi sih endak, cuman agak berkurang pembeli jamur enoki karena yang paling laris dan beralih ke jamur lain. Mending nggak jual dari pada pembeli saya sakit habis makan jamur enoki," tambahnya.

Pedagang pasar tradisional maupun modern di Surabaya enggan menjual jamur enokiJamur enoki tersedia di pasar modern Surabaya/ Foto: Esti Widiyana

Menurutnya, jamur enoki lebih banyak dicari karena teksturnya yang lebih bagus dari pada lainnya.

"Jamur dari korea beda dari yang lain, teksturnya lebih bagus dari China dan Malaysia. Jamur enoki yang punya greenco yang coklat itu dicabut, tapi tidak tahu jamur enoki lainnya. Gini imbasnya ke semua, orang persepsinya sama," jelasnya.

Sementara Ujang, pedagang jamur enoki di Pasar Wonokromo mengaku lebih baik rugi dan membuang jamur enoki stoknya yang masih ada. Dari pada dia harus mengorbankan kesehatan orang lain.

"Kemarin ada beberapa stok. Karena ada kabar itu mending saya rugi, saya buang dari pada nggak aman dikonsumsi orang," tegasnya.

Di swalayan buah dan sayur Jalan Panglima Sudirman, Hokky justru kembali menjual. Salah satu karyawan Hokky mengaku tidak menjual jamur enoki lagi sejak tiga hari lalu. Namun hari ini kembali dijual lagi karena dirasa aman.

"Sempet kosong dua atau tiga hari setelah ada kabar miring. Sekarang ready lagi, ini aman. Enoki paling laris dibanding dengan jamur yang lain. Sekali datang empat sampai lima karton, biasanya terjual dalam tiga harian," pungkasnya.

(fat/fat)