Surabaya Raya Bandel Soal Pencegahan COVID, Khofifah: Munculkan Klaster Baru

Hilda Meilisa - detikNews
Kamis, 25 Jun 2020 13:03 WIB
gubernur khofifah
Gubernur Khofifah bersama Presiden Jokowi (Foto: Istimewa)
Surabaya -

Gubernur Khofifah Indar Parawansa mendapatkan kunjungan dari Presiden Joko Widodo untuk melihat penanganan COVID-19 di Jatim. Khofifah menceritakan sejauh mana upayanya dalam menekan penyebaran virus Corona.

Salah satu yang dipaparkan pada Jokowi, yakni tingkat kepatuhan warga Surabaya Raya pada protokol pencegahan COVID-19 yang rendah. Khofifah menyayangkan hal ini karena menyebabkan klaster penularan baru.

"Pada posisi seperti ini lah yang menjadikan munculnya klaster-klaster baru terutama di titik-titik terkait dengan potensi kerumunan massa berasal," kata Khofifah di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Kamis (25/6/2020).

Sebelumnya, Khofifah memaparkan rate of transmission (RT) di Surabaya Raya sempat di bawah angka 1. Namun akibat ketidakpatuhan ini, RT-nya kembali naik di atas angka 1. Padahal, jika 14 hari berturut-turut angkanya di bawah 1, Khofifah berencana akan menerapkan new normal di Surabaya Raya.

"Surabaya sendiri RT-nya di bawah 1 sempat 6 hari. Sidoarjo di bawah 1 sempat 8 hari. Gresik di bawah 1 sempat 6 hari. Hari itu kami sudah merasa bahwa kita tunggu sebentar lagi 8 hari lagi, terus kita sudah siap new normal," ungkapnya.

Namun, meski ada imbauan untuk tidak berkerumun, Khofifah menyebut ada sejumlah masyarakat yang masih nongkrong. Di mana, ada 88% masyarakat yang berkerumun dan tak menggunakan masker. Ada pula 89% masyarakat tak menerapkan physical distancing.

"Lalu kita lihat bagaimana tempat cangkrukan, warung, saya lihat 88% mereka tidak menggunakan masker dan 89% mereka tidak physical distancing. Ini hasil penelitian dari FKM Unair," lanjutnya.

Selain itu, Khofifah menyebut telah menyarankan masyarakat melakukan ibadah secara online. Namun, ada beberapa tempat ibadah yang masih buka. Bahkan di tempat ibadah, ada 70% masyarakat yang tidak menggunakan masker. Kemudian ada 84% mereka tidak menerapkan physical distancing.

Tak hanya di tempat ibadah, Khofifah menyebut di pasar tradisional ada 92,8% pasar yang masih buka. Sedangkan jumlah masyarakat yang tidak menggunakan masker meningkat hingga 84%. Lalu, yang tidak physical distancing ada 89%.

"Padahal tak henti-hentinya kami membagikan masker dan face shield pada pedagang dan masyarakat di pasar," sesal Khofifah.

Tonton video 'Corona di Jatim Terbanyak, Jokowi Minta Pengendalian 2 Minggu':

(hil/iwd)