1.000 Warga Gelar Salat Gerhana Matahari dengan Protokol Kesehatan

Faiq Azmi - detikNews
Minggu, 21 Jun 2020 17:10 WIB
Warga salat gerhana
1.000 Warga salat gerhana di Masjid Al Akbar (Foto: Faiq Azmi/detikcom)

"Semua jemaah tertib menggunakan masker, termasuk muadzin, imam dan khotib menggunakan masker," tuturnya.

Selain itu, para jemaah sebelum masuk ke dalam masjid terlebih dahulu dicek suhu badan, masuk melalui tiga pintu yang telah disediakan bilik sterilisasi. "Para jemaah juga diberi tas plastik sebagai bungkus sandal dan sandal dibawa masuk, agar keluarnya tidak berkerumun," jelas Helmy.

Imam salat dan khotib dipimpin langsung oleh Imam Besar Masjid Al Akbar yaitu KH Abdul Hamid Abdullah sebagai imam dan Prof Dr H M Roem Rowi, MA sebagai khotib salat gerhana.

Dalam khutbah Gerhana Matahari Prof Roem Rowi mengajak kepada para jemaah selalu beristigfar, takbir dan bersedekah. "Mari bersama kita memohon ampunan kepada Allah dan memohon agar cobaan COVID-19 ini segera berakhir," kata Prof Roem Rowi.

Warga salat gerhanaWarga salat gerhana dengan physical distancing/ Foto: Faiq Azmi

Prof Roem menjelaskan gerhana matahari adalah tanda kekuasaan Allah. Wabah pandemi COVID-19 juga kekuasaan Allah. Menurutnya, manusia sedang diuji oleh Allah.

"Rasulullah SAW bersabda, sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Keduanya tidak terjadi gerhana karena kematian dan kehidupan seseorang. Jika kalian melihat keduanya berdoalah kepada Allah dan sholatlah sampai kembali seperti semula," ujarnya.

"Mari di momentum ini kita semua tingkatkan keimanan kepada Allah. Mari kita berdoa agar pandemi ini segera diangkat oleh Allah dari bumi Indonesia dan segera berakhir," pungkasnya.

Halaman

(fat/fat)