Sudah 14 Pekan Masjid Al Falah Surabaya Tak Gelar Salat Jumat, Ini Alasannya

Amir Baihaqi - detikNews
Jumat, 19 Jun 2020 11:33 WIB
masjid al falah jalan darmo
Masjid Al Falah Surabaya (Foto: Istimewa)
Surabaya -

Masjid Al Falah Surabaya kembali memutuskan tidak menggelar salat Jumat pada hari ini. Total sudah 14 pekan tak ada salat Jumat di Masjid Al Falah sejak Jumat (20/3).

"Kami mulai tanggal 20 Maret. Sejak itu sudah tidak menggelar sampai sekarang," kata Humas Masjid Al Falah Wirawan Dwi kepada detikcom, Jumat (19/6/2020).

Menurut Wirawan, meskipun dari sisi internal protokol kesehatan masjid sudah siap. Namun keputusan belum menggelar salat Jumat juga atas pertimbangan eksternal, seperti adanya pasar tumpah setiap Jumat di sekitar area masjid.

"Di sekitar Masjid Al Falah ini kan kalau Jumat di sebelahnya Jalan Citarum kan ada pasar. Pasar dadakan dan itu banyak (orang) sekali. Kami khawatir begini, misalnya ya ini masih terus kaji gimana kesiapan pasarnya," tutur Wirawan.

"Misalnya kami di masjid protokol kesehatannya sudah sangat ketat. Bahkan sudah kami siapkan edukasi di poster-poster yang ada di masjid baik dari sisi kesehatan, maupun tata tertib salat. Ini sisi masjid sudah di-handle. Tapi bagaimana kalau sisi eksternal (pasar tumpah)," ujarnya.

"Jadi sampai kemarin kami sampai ketemu dengan koordinator pasarnya diskusi tapi belum ketemu untuk menyelenggarakan (salat Jumat)," imbuhnya.

Lalu bagaimana tanggapan jemaah terkait masih belum digelarnya salat Jumat? Wirawan mengaku ada pro kontra di antara jemaah. Bahkan di antaranya menyebut tak perlu takut sama virus Corona.

"Ya macam-macam (tanggapannya). Jelas ada pro kontra. Bahkan ada yang bilang 'takut itu sama Allah masak takut sama virus'. Sementara di sisi kajian di masalah begini ini ulama tidak bisa memberi fatwa sendiri. Tapi fatwanya itu mengikuti anjuran dokter. Karena yang paling paham terkait ini kan dokter," tukas Wirawan.

"Ya mungkin mereka bilang itu kan mewakili dirinya sendiri. Karena kepingin salat ke masjid. Sementara kami kan mewakili lembaga. Lah kalau ada risiko macam-macam bagaimana. Kan jadi fitnah 'oh ini kena di masjid'. Jadi digeneralisir," tandas Wirawan.

(iwd/iwd)