Setubuhi Kekasih Lalu Kabur ke Bali, Pengangguran dari Banyuwangi Ini Dibui

Ardian Fanani - detikNews
Jumat, 12 Jun 2020 18:31 WIB
pemerkosaan di banyuwangi
Pelaku yang sempat kabur ke Bali (Foto: Ardian Fanani)
Banyuwangi - Memperdaya anak di bawah umur, seorang pengangguran di Banyuwangi diamankan. AM (25) warga Kecamatan Giri, Banyuwangi tega menggauli anak di bawah umur yang dikenalnya melalui medsos sebanyak 4 kali. Pelaku sempat kabur, lari dari tanggung jawab.

Kasus ini bermula dari perkenalan keduanya melalui media sosial. Korban yang berumur 16 tahun itu kemudian diajak berkeliling kota dan kemudian berakhir di kamar hotel.

"Tersangka 4 kali melakukan aksi persetubuhan anak di bawah umur. Membujuk korban dengan berbagai rayuan kemudian diajak ke hotel," ujar Kapolresta Banyuwangi Kombes Arman Asmara Syarifudin kepada detikcom, Jumat (12/6/2020).

Setelah di dalam kamar, kata Arman, tersangka melakukan bujuk rayu dengan berencana melamar korban. Merasa tersangka serius menjalani hubungan, korban pun mau digauli oleh tersangka.

"Selama dua hari di hotel yakni bulan Agustus 2019 kemarin. Digauli 4 kali dan tidak bisa pulang karena dilarang oleh tersangka," tambahnya.

Merasa kehilangan anaknya selama dua hari, keluarga korban pun melaporkan kepada kepolisian. Namun keesokan harinya, korban pulang dan melaporkan hal tersebut ke orang tuanya.

"Setelah pulang, korban melaporkan apa yang sudah dialaminya. Orang tua korban melaporkan hal ini ke polisi," ujarnya.

Belum sempat diamankan, tersangka AM kabur dari rumahnya. Diduga AM kabur ke Bali. Namun setelah Lebaran tersangka pulang ke rumahnya di wilayah Giri. Saat itulah polisi menangkap pelaku.

Polisi juga mengamankan beberapa barang bukti berupa celana dalam warna hijau, sebuah HP, tanktop bergaris dan masih banyak lagi.

"Pelaku kami amankan di rumahnya. Pelaku mengakui semua perbuatannya," tambah Arman.

Atas perbuatannya, tersangka dijerat dengan pasal 81 Undang-undang Republik Indonesia No. 17 tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan pemerintah pengganti undang-undang No. 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas undang-undang No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak menjadi Undang-undang dengan ancaman hukuman minimal 5 Tahun dan maksimal 15 tahun penjara. (iwd/iwd)