Penari Gandrung Pakai Face Shield, Pemkab Sebut Masih Disempurnakan

Ardian Fanani - detikNews
Kamis, 04 Jun 2020 19:49 WIB
Banyuwangi Munculkan Penari Gandrung Pakai Masker dan Face Shield
Foto: Ardian Fanani
Banyuwangi -

Munculnya Gandrung dengan protap COVID-19, diakui oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi sebagai inovasi baru menyambut New Normal. Namun Pemkab Banyuwangi masih melakukan evaluasi agar eststika Gandrung tak hilang meski harus dilengkapi dengan alat pelindung diri.

Seperti yang diperagakan para penari Gandrung saat mentas di Kampung Tangguh di Perumahan Permata Valenta Desa Gembiritan Kecamatan Genteng, Kamis (4/6/2020). Mereka menari dengan anggunnya, namun tetap mengenakan masker dan face shiled sebagai upaya mencegah penularan Coronavirus.

"Ini sangat bagus. Sekaligus angin segar buat sanggar (tari) untuk bisa tetap tampil dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan. Apalagi selama ini mereka tidak ada job gara-gara Corona," kata MY Bramuda Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi kepada detikcom.

Diakui Bramuda, penampilan tarian Gandrung dengan protokol kesehatan ini merupakan uji coba pertama atraksi dan pertunjukan di Banyuwangi selama pandemi COVID-19. Pihaknya masih terus menggodok formula terbaik, sehingga geliat pariwisata yang menampilkan atraksi seni budaya Banyuwangi bisa bangkit kembali.

"Ini uji coba pertama. Protokol kesehatan COVID-19 tentu harus dilaksanakan. Namun juga tetap mengindahkan estetika seni itu sendiri," imbuhnya.

Sebelum menampilkan atraksi, lanjut Bramuda, para talent wajib mengikuti pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu. Hal ini untuk memastikan kondisinya sehat dan terbebas dari COVID-19.

"Jadi sebelum mentas talent harus dipastikan dalam kondisi sehat. Kemudian, interaksi dengan penonton harus diminimalisir, serta menggunakan handsanitizer atau cuci tangan serta mengenakan pelindung seperti masker dan face shield," tegasnya.

Meski demikian, Bramuda mengaku akan terus melakukan evaluasi, jika memang ditemukan kekurangan dari nilai estetika akibat penerapan protokol kesehatan. "Kita masih cari formulasinya itu, agar protokol kesehatan bisa berjalan beriringan dengan keindahan seni," ujarnya.

Diakui Bramuda, pandemi COVID-19 berdampak pada matinya sektor patiwisata Banyuwangi. Tak hanya pegiat wisata, para seniman, dan budayawan pun terpaksa menganggur lantaran tak ada job yang bisa mereka kerjakan.

Namun, inovasi Wisata Tangguh yang diinisiasi Pemkab dan Polresta Banyuwangi rupanya membawa angin segar bagi sektor wisata untuk dapat bangkit kembali di tengah tantangan wabah virus mematikan tersebut.

Melalui Wisata Tangguh, pelaku wisata baik yang bergerak di bidang tourguide, kuliner, maupun para seniman dan budayawan bisa beraktifitas normal kembali dengan catatan tetap melaksanakan protokol kesehatan COVID-19.

(fat/fat)