Pakar Imbau Pemerintah Lebih Tegas Agar Ada Penurunan COVID-19 di Jatim

Hilda Meilisa - detikNews
Sabtu, 30 Mei 2020 11:50 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Surabaya -

Pasien COVID-19 di Jawa Timur melonjak ke angka 4.409 kasus. Jika ingin terjadi penurunan penyebaran virus Corona, pakar menyarankan agar pemerintah lebih tegas, terutama di zona merah penularan.

Pakar Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Dr dr Windhu Purnomo melihat penularan dari hulu atau masyarakat masih cukup besar. Windhu meminta Pemprov Jatim untuk tak buru-buru dalam memberikan kelonggaran.

"Jadi kalau kita tegas tidak melakukan pelonggaran dulu. Terutama Jatim, PSBB di Surabaya Raya dan Malang Raya jangan melonggarkan dulu. Yang ketat dua minggu ini kalau bisa yang ketat. Jangan seperti ini rame di jalanan," saran Windhu di Surabaya, Sabtu (30/5/2020).

Windhu menambahkan ada baiknya jika polisi melakukan sweeping hingga menempatkan titik check point di jalanan kota juga, bukan hanya di perbatasan kota.

Karena menurut Windhu, jalanan Kota Surabaya juga terpantau cukup ramai meski sedang menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Jika pencegatan kerap dilakukan, Windhu menyebut bisa membuat psikologi masyarakat menjadi malas berkeliaran ke luar rumah.

"Sweeping dilakukan di kota bukan di batas kota saja. Mungkin orang bakal enggan keluar rumah karena dicegati. Kan nggak enak orang keluar rumah dicegat disweeping, secara psikologis itu akan menahan diri buat ndak keluar-keluar," ujar Windhu.

"Check point baiknya juga di tengah kota, bukan hanya di batas kota. Batas kota sudah bagus meskipun ada yang lolos dari jalan lain, tapi yang dalam kota juga ndak ada sweeping," imbuhnya.

Jika aturan PSBB dilonggarkan, Windhu khawatir rumah sakit di Surabaya kewalahan. Terlebih, dia menyebut Surabaya hingga Jatim sudah menjadi episentrum penularan COVID-19.

"Sudah jadi episentrum sekarang. Sudah jadi. Yang penting sekarang itu kan sumber (penularannya) di masyarakat. Penularan jangan sampai berjalan terus. Rumah sakit itu hilir, hanya menerima dari hulu," pungkasnya.

(hil/fat)