Keluarga PDP Corona Diminta Bayar Rp 3 Juta, Ini Penjelasan Rumah Sakit

Enggran Eko Budianto - detikNews
Jumat, 22 Mei 2020 21:49 WIB
viral video pdp ditarik Rp 3 juta
Foto: Tangkapan layar
Mojokerto -

Viral video keluarga pasien dalam pengawasan (PDP) asal Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto ditarik biaya pemulasaraan dan pemakaman jenazah Rp 3 juta oleh pegawai RSUD Dr Wahidin Sudiro Husodo, Kota Mojokerto. Apa kata rumah sakit pelat merah tersebut?

Direktur RSUD Dr Wahidin Sudiro Husodo dr Sugeng Mulyadi membenarkan adanya kejadian tersebut. Kejadian itu diaku Sugeng merupakan salah paham antara pihak RS dan pasien. Dan kesalahpahaman itu sudah diselesaikan.

Sugeng mengatakan pihak pegawai RSUD Dr Wahidin Sudiro Husodo berdalih memungut biaya tersebut karena jenazah PDP Corona itu tercatat sebagai warga Kabupaten Mojokerto. Padahal dia berobat di RS dr Wahidin yang merupakan RS di Kota Mojokerto. Sementara Pemkab Mojokerto sendiri tidak menganggarkan pemulasaraan jenazah kasus Corona sehingga biayanya dibebankan ke keluarga pasien.

Direktur RSUD Dr Wahidin Sudiro Husodo dr Sugeng Mulyadi membenarkan ulah anak buahnya yang menarik biaya pemulasaraan jenazah PDP Corona. Menurut Sugeng, pegawai berinisial MNH itu belum memahami peraturan terbaru.

"Karena Permenkes keluarnya 6 April, sosialisasi kami ke bawah ada yang tidak tahu. Yang dulu memang harus ada MoU dengan daerah luar kota. Setelah Permenkes itu keluar, biaya bisa diklaim oleh rumah sakit (ke pemerintah) tanpa membedakan asal pasien. Anak ini (MNH) masih memakai aturan uang lama," ujar Sugeng saat dikonfirmasi detikcom, Jumat (22/5/2020).

Biaya pemulasaraan jenazah Rp 3 juta sendiri telah dibayar keluarga pasien ke RSUD Dr Wahidin Sudiro Husodo. Menurut dr Sugeng, uang tersebut baru dikembalikan ke anak pasien pagi tadi.

"Tadi pagi sudah kami kembalikan," tegasnya.

PDP Corona tersebut yakni pria 60 tahun asal Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto. Dia meninggal dunia di RSUD Dr Wahidin Sudiro Husodo pada Selasa (19/5) malam.

Menurut Sugeng, pasien masuk ke rumah sakit yang dia pimpin pada Senin (18/5) malam. Saat itu pasien menderita pneumonia dan diabetes. Namun, rapid test menunjukkan hasil nonreaktif.

"Tanggal 19 Mei kondisi pasien memburuk, lalu meninggal dunia belum sempat dites swab," tandasnya.

(iwd/iwd)