Angka Penderita DBD di Situbondo Tembus 108 Kasus, Satu Balita Meninggal

Ghazali Dasuqi - detikNews
Minggu, 17 Mei 2020 12:41 WIB
fogging
Petugas melakukan fogging cegah DBD (Foto: Ghazali Dasuqi)
Situbondo -

Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Situbondo terus mengalami lonjakan. Hingga pertengahan Mei ini, jumlah penderita DBD di Situbondo mencapai 108 kasus.

Bahkan, satu orang balita asal Kecamatan Asembagus dinyatakan meninggal dunia akibat DBD.

"Betul, ada satu orang meninggal akibat DBD ini. Korban masih balita, usia 28 bulan," kata Plt Kepala Dinas Kesehatan Situbondo, Abu Bakar Abdi kepada detikcom, Minggu (17/5/2020).

Lonjakan penderita DBD di Situbondo terbilang drastis. Bahkan, dalam sebulan terakhir ini ada tambahan lebih dari 30 kasus. Data per 20 April lalu, penderita DBD di Situbondo sebanyak 75 kasus dengan 0 kematian.
Sementara hingga pertengahan Mei, penderita DBD sudah mencapai 108 kasus dengan 1 kasus kematian. Terbanyak, penderita DBD di Situbondo sejauh ini adalah anak berusia 2-5 tahun.

"Makanya jangan hanya fokus ke virus Corona. Sementara DBD yang ada di depan mata justru diabaikan. Bahkan, sekarang sudah ada yang meninggal karena DBD. Masyarakat harus lebih waspada," tandas Abu Bakar Abdi.

Sebanyak 108 kasus DBD itu tersebar di 18 Puskesmas yang ada di wilayah Situbondo. Terbanyak ada di Puskesmas Asembagus dengan 20 kasus. Disusul Puskesmas Banyuputih dengan 15 kasus, dan Puskesmas Panji 10 kasus DBD. Berikutnya, Puskesmas Besuki, Puskesmas Sumbermalang, dan Puskesmas Panarukan dengan masing-masing 7 kasus.

Sementara Puskesmas Suboh dan Puskesmas Bungatan masing-masing 6 kasus; lalu Puskesmas Arjasa dan Situbondo masing-masing 5 kasus; Puskesmas Klampokan 4 kasus; kemudian Puskesmas Mlandingan, Banyuglugur dan Puskemas Wonorejo dengan masing-masing 3 kasus DBD.

Sementara Puskesmas Kapongan, Puskesmas Jangkar dan Puskesmas Jatibanteng masing-masing 2 kasus; dan Puskesmas Kendit dengan 1 kasus. Hingga kini, hanya Puskesmas Mangaran dan Puskesmas Widoro Payung yang masih bersih atau 0 kasus DBD.

"Angka DBD di Situbondo ini cenderung tinggi, salah satunya karena faktor cuaca di Situbondo ini cenderung beda dengan daerah lain. Kalau di Situbondo sehari hujan, lalu beberapa hari panas. Ini berpotensi berkembangnya jentik," papar pria yang tinggal di Jalan Wijaya Kusuma Situbondo itu.

Menurut Abu Bakar, untuk menekan angka DBD di Situbondo saat ini pihaknya terus menggalakkan program Gesit Batik atau Gerakan Situbondo Bebas Jentik. Melalui seluruh Puskesmas yang ada di Situbondo, Gesit Batik terus digaungkan ke masyakarat di wilayahnya masing-masing. Di antaranya, dengan menyosialisasikan kembali penerapan 3 M Plus. Yakni Menutup, Menguras, dan Mengubur tempat-tempat yang berpotensi menjadi genangan air.

"Plusnya itu menggunakan lotion anti nyamuk, khususnya pagi hingga menjelang siang. Sementara fogging tetap kita lakukan, tapi di daerah-daerah yang sudah ada kasus. Mudah-mudahan kasus DBD di Situbondo bisa segera mereda," pungkas Abu Bakar.

(iwd/iwd)