Hari Ketiga PSBB Surabaya, Masih Banyak Warga Cangkruk di Warkop

Hari Ketiga PSBB Surabaya, Masih Banyak Warga Cangkruk di Warkop

Deny Prastyo Utomo - detikNews
Kamis, 30 Apr 2020 17:29 WIB
psbb surabaya
Petugas mengingatkan pedagang agar tak menyediakan kursi. (Deny Prastyo Utomo/detikcom)
Surabaya - Hari ketiga pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Surabaya, masih banyak ditemukan orang yang nongkrong di warung kopi. Petugas pun segera mengambil tindakan.

Petugas gabungan yang terdiri atas Satpol PP, Polsek Genteng, serta Koramil melakukan penertiban di sepanjang Jalan Pandegiling, Urip Sumoharjo, Basuki Rahmat, dan Jalan Kusuma Bangsa. Petugas dengan membawa pengeras suara dan membawa poster imbauan PSBB meminta para pedagang dan pembeli mematuhi aturan selama PSBB.

Saat melakukan penertiban, petugas meminta toko-toko yang tidak sesuai dengan aturan PSBB menutup sementara waktu selama PSBB. Selain itu, petugas menemukan tempat penjualan makanan dan warung kopi yang menyediakan meja-kursi, bahkan ada beberapa warung terlihat ramai meski saat ini bulan Ramadhan sudah memasuki hari ke-7. Mereka asyik nongkrong meski petugas datang.

"Kami tidak melarang jualan. Tapi tolong, habis beli bungkus, langsung dibawa pulang. Jangan nongkrong di sini dan jangan ada meja dan kursi. Ini malah menggunakan karpet untuk lesehan," kata Kasi Trantib Kecamatan Genteng Nurtam dengan pengeras suara di Jalan Urip Sumoharjo, Kamis (30/4/2020).

Petugas gabungan juga meminta agar meja dan kursi untuk sementara waktu dibawa pulang. Namun beberapa warga malah cuek melihat petugas saat diingatkan. Bahkan mereka juga tidak menggunakan masker

"Hari ini PSBB yang ketiga. Kami tetap melakukan penertiban sehari dua kali pada pukul 09.00 WIB dan pukul 21.00 WIB. Untuk hari ini objeknya adalah warkop-warkop di Jalan Dukuh Simpang ada 7 warkop, di Jalan Pandegiling ada 10 warkop dan di Jalan Urip Sumoharjo. Toko yang selain menjual sembako, logistik, epliji dan laundry harus tutup sementara," ujar Nurtam.

"Dari temuan ada yang masih bertahan dan kami imbau dibungkus dan bawa pulang makananya. Kami tetap membolehkan bisnis makanan, warung-warung, kafe-kafe silakan berlangsung. Tapi tidak boleh menyediakan kursi dan meja. Karena, jika ada meja-kursi, akan ada potensi untuk bergerombol. Tapi praktiknya masih ada," tandas Nurtam. (iwd/iwd)