Gas Beracun Ditemukan di Tempat Tewasnya 3 Pekerja Pabrik Bioetanol Mojokerto

Enggran Eko Budianto - detikNews
Jumat, 24 Apr 2020 15:50 WIB
Pabrik Bioetanol di Mojokerto
Foto file: Enggran Eko Budianto
Mojokerto -

Penyelidikan kasus kecelakaan kerja yang menewaskan 3 pekerja PT Energi Agro Nusantara (Enero) di Kabupaten Mojokerto terus bergulir. Petugas menemukan gas beracun jenis Hidrogren Sulfida (H2S) di dalam kolam pengendapan yang menjadi tempat terjadinya kecelakaan kerja.

Kasat Reskrim Polres Mojokerto Kota AKP Sodik Efendi mengatakan, Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Polda bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jatim telah mengambil sampel gas dan lumpur dari kolam pengendapan PT Enero beberapa waktu lalu.

Dari pemeriksaan laboratorium terhadap sampel itu diketahui terdapat gas beracun jenis Hidrogen Sulfida di dalam kolam pengendapan pabrik bioetanol tersebut. Di dalam kolam itulah ketiga pekerja tewas.

"Yang jelas ada gas H2S di dalam kolam, itu gas berbahaya yang seharusnya diketahui para pekerja. Efeknya terlalu menyengat bisa membuat puyeng sampai pingsan. Kalau H2S tinggi tidak boleh ada orang bekerja di dalam kolam," kata Sodik saat dikonfirmasi detikcom, Jumat (24/4/2020).

Hidrogen Sulfida tergolong gas beracun yang tidak berwarna, mudah terbakar dan berbau seperti telur busuk. Gas ini bisa muncul dari aktivitas bakteri menguraikan bahan organik dalam kondisi tanpa oksigen.

Saat disinggung terkait kadar gas H2S di lokasi kecelakaan kerja, Sodik memilih menunggu keterangan resmi dari Labfor Polda Jatim. Begitu juga soal kemungkinan gas tersebut yang memicu ketiga korban pingsan sehingga tewas akibat tenggelam di kolam lumpur pengendapan.

"Kami masih menunggu dari Labfor sebagai saksi ahli," terangnya.

Sodik menjelaskan, pihaknya telah menuntaskan pemeriksaan terhadap 16 saksi terkait kasus kecelakaan kerja ini. Belasan saksi itu dari unsur karyawan dan manajemen PT Enero.

"Untuk dua korban selamat belum bisa kami mintai keterangan karena masih syok," ujarnya.

Selanjutnya, keterangan saksi ahli akan dikumpulkan. Yaitu saksi ahli kimia dari ITS Surabaya, Labfor Polda Jatim, serta ahli pidana. Khusus ahli pidana belum ditentukan asal perguruan tingginya.

"Gelar perkara kami masih menunggu keterangan dari Labfor dan Kedokteran Forensik terkait hasil autopsi korban. Setelah itu baru ke saksi ahli. Mudah-mudahan dalam minggu depan bisa gelar perkara," tandasnya.

Kecelakaan kerja terjadi di pabrik bioetanol PT Enero, anak perusahaan BUMN PTPN X pada Sabtu (11/4) pagi. Saat kejadian, terdapat 5 pekerja di kolam pengendapan berisi lumpur campuran spentwash dan yeast atau ragi.

Salah seorang pekerja merupakan Kepala Satuan Keamanan PT Mochamad Jainun (45), warga Desa Gempolkrep, Kecamatan Gedeg. Jainun hanya mendampingi 4 pekerja membersihkan kolam.

Sekitar pukul 08.30 WIB, 3 pekerja yang sedang membersihkan kolam pengendapan mendadak tumbang. Seorang pekerja lainnya Choirul Hidayat (28), warga Desa Gembongan, Kecamatan Gedeg berhasil selamat karena lari setelah mencium bau menyengat.

Sementara Jainun jatuh setelah terkena semburan gas di lokasi. Saat itu dia akan membantu tiga korban yang diduga kuat keracunan gas. Dia dan Choirul berhasil selamat. Sedangkan 3 rekan kerjanya dinyatakan tewas saat dibawa ke RSUD RA Basuni, Gedeg, Mojokerto.

Tiga korban tewas yakni Beni Trio Sucahyo (30), warga Desa Gembongan, Kecamatan Gedeg, serta Bayu Adi Nugraha (30) dan Rudik (45), keduanya warga Desa Gempolkrep, Kecamatan Gedeg. Mereka diduga tewas akibat tenggelam di lumpur kolam pengendapan karena pingsan usai terpapar gas.

(fat/fat)