Seorang Kepala Desa di Bondowoso Jadi Tersangka Perusak Hutan

Chuk S. Widarsha - detikNews
Jumat, 24 Apr 2020 10:28 WIB
Banjir di Bondowoso
Banjir di Bondowos (Foto: Chuk S. Widarsha/detikcom)
Bondowoso -

Seorang kepala desa di Bondowoso diamankan karena membabat hutan lindung. Lahan itu kemudian dijadikan lahan pertanian sayur-mayur.

Pelaku yang sudah ditetapkan sebagai tersangka itu yakni Sutiono (50), warga Desa Jempit, Ijen. Selain menjabat sebagai kepala desa, pelaku juga merupakan ketua LMDH (lembaga masyarakat desa hutan) desa setempat.

Pelaku disangka melanggar pasal 92 ayat 1 junto pasal 17 ayat 2 UU No 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan, serta pasal 78 junto pasal 50 UU Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.

"Sudah kami tetapkan sebagai tersangka. Kasus ini masih kami kembangkan terus. Tersangka diancam hukuman paling lama 10 tahun atau denda maksimal 5 miliar," ungkap Kapolres Bondowoso, AKBP Erick Frendriz, dikonfirmasi di mapolres, Jumat (24/4/2020).

Erick menambahkan pihaknya akan bersikap tegas terhadap para pelaku yang menyebabkan kerusakan hutan di kawasan Ijen. Karena alih fungsi hutan dapat mendatangkan petaka bagi lingkungan dan juga masyarakat sekitar.

"Banjir bandang yang menerjang daerah Ijen kemarin, salah satu penyebabnya karena alih fungsi dari hutan menjadi lahan pertanian. Apalagi, yang dirambah merupakan kawasan hutan lindung," tegasnya.

Data lain berhasil dihimpun detikcom, pelaku Sutiono sebenarnya merupakan tokoh masyarakat. Karena saat ini masih menjabat sebagai kepala desa di Desa Jampit, Ijen.

Sekitar bulan Oktober 2019, pelaku membuka lahan hutan milik Perhutani KPH Bondowoso. Padahal, kawasan tersebut merupakan hutan lindung yang terletak di petak 101-1 dan petak 101-5 RPH Dataran Ijen, BKPH Sukosari.

Adapun luas area hutan lindung yang dirambah dan dikuasai tersangka seluas 5,57 hektar. Pembukaan area hutan tersebut mengatasnamakan LMDH. Tapi kemudian dimanfaatkan secara pribadi untuk ditanami kentang dan kubis.

Apalagi, kawasan tersebut merupakan kawasan hutan lindung. Akibatnya, saat hujan di lereng gunung Suket terjadi erosi dan banjir bandang yang kemudian menerjang kawasan Ijen dan sekitarnya.

(fat/fat)