Bidan Pelaku Aborsi Manfaatkan Profesinya Dapatkan Obat Penggugur Kandungan

Deny Prastyo Utomo - detikNews
Selasa, 07 Apr 2020 21:05 WIB
aborsi
Ilustrasi aborsi (Foto: istimewa)
Surabaya -

MS (31), pelaku praktik aborsi di Surabaya merupakan seorang bidan. Profesinya tersebut memuluskan dan memudahkannya melakukan aborsi.

Dengan profesinya, warga Lamongan itu dengan mudah mendapatkan alat ataupun obat penggugur kandungan yang tidak dijual bebas. Alat dan obat itu dengan mudah ia dapatkan di apotek.

"Karena pelaku adalah bidan, jadi mudah nyari alat dan obat di apotek," ujar PS Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak(PPA) Iptu Harun saat dikonfirmasi detikcom, Selasa (7/4/2020).

Harun mengatakan praktik aborsi yang dilakukan MS sudah berjalan selama tiga tahun. Bahkan setiap bulan hampir ada pasien yang ditangani. Terakhir praktik aborsi yang dilakukan pelaku adalah saat membantu aborsi pasangan kekasih, M (32) dan pacarnya yang berusia 17 tahun. MS dimintai tolong menggugurkan kandungan berisi janin berusia 20 minggu.

Untuk tarif, MS mematok Rp 1-2 juta rupiah berdasarkan kemampuan pasien. Jika harga sudah disepakati, maka aborsi pun dilakukan. Sedangkan lokasi, yang digunakan untuk aborsi adalah hotel.

MS melakukan aborsi tidak di satu hotel, melainkan berpindah-pindah hotel. Sebelum melakukan aborsi, MS mengaku melihat keseriusan dari kliennya terlebih dahulu. Jika benar-benar serius dan laki-lakinya memang tidak bertanggung jawab, ia akan melakukannya.

"Bila benar-benar serius dan laki-lakinya tidak bertanggung jawab baru pelaku mengiyakan dan setelah itu membicarakan kesepakatan harga dari mulai obat-obatan sampai dengan biaya tindakannya," ujar Harun.

Berdasarkan pengakuan pelaku, Harun mengatakan pelaku mengaku tidak membuka praktik aborsi namun didasari atas dasar kemanusiaan. Khususnya membantu perempuan yang disia-siakan para lelaki hidung belang.

"Menurutnya hanya rasa kemanusiaan, khususnya wanita-wanita yang disia-siakan lelakinya atau laki-laki yang tidak bertanggung jawab kepada si wanita tadi," tandas Harun.

(iwd/iwd)