Penjualan Meningkat, Produsen Rempah Bubuk di Jombang Tak Naikkan Harga

Enggran Eko Budianto - detikNews
Senin, 09 Mar 2020 16:20 WIB
Produsen Rempah-rempah Bubuk di Jombang Tak Naikkan Harga
Produsen rempah di Jombang (Foto: Enggran Eko Budianto/detikcom)
Jombang -

Penjualan rempah-rempah bubuk buatan industri rumahan (home industry) di Jombang melejit seiring virus corona masuk Indonesia. Meski permintaan sedang tinggi, produsen enggan menaikkan harga jual. Kenapa?

Salah seorang yang menekuni bisnis rempah-rempah bubuk adalah Suyanto (41), warga Dusun Segunung, Desa Carangwulung, Kecamatan Wonosalam, Jombang. Selama ini dia memproduksi bubuk jahe merah, jahe emprit, kunyit dan temulawak.

Rempah-rempah buatannya sudah siap dikonsumsi karena tinggal diseduh dengan air hangat. Ia mengaku, permintaan rempah-rempah bubuk buatannya melonjak hingga 3 kali lipat dalam dua pekan terakhir. Para pembeli mayoritas datang dari Jombang dan Surabaya.

"Sebelumnya hanya 20-50 bungkus per minggu, sekarang penjualan naik menjadi 60-150 bungkus seminggu," kata Suyanto kepada wartawan di rumahnya, Senin (9/3/2020).

Banyaknya pembeli saat ini, kata Suyanto, imbas dari ramainya pemberitaan yang menyebut rempah-rempah bisa mencegah penularan virus corona. Karena daya tahan tubuh akan meningkat dengan mengonsumsi jahe merah dan sejenisnya.

"Karena banyak berita yang menyebut salah satu yang bisa mencegah korona itu rempah-rempah, seperti jahe merah dan kunyit," terangnya.

Naiknya penjualan otomastis membuat omzet Suyanto ikut meroket. Saat ini omzetnya paling banyak mencapai Rp 1,5 juta dalam sepekan.

Kendati permintaan rempah-rempah bubuk sedang tinggi, bapak satu anak ini memilih tidak menaikkan harga penjualan. Jahe merah bubuk kemasan 100 gram dia jual Rp 10.000/bungkus. Sedangkan kunyit dan temulawak dengan kemasan yang sama, dia patok Rp 8.000/bungkus.

"Harga penjualan kami masih seperti biasa. Karena kami mendapatkan bahan bakunya dari kebun sendiri dan petani di sekitar sini," ungkapnya.

Suyanto mempunyai kebun seluas 75 meter persegi di belakang rumahnya. Kebun di kaki Pegunungan Anjasmoro itu dia tanami rempah-rempah.

"Hasil panen sebagain besar saya olah, tidak saya jual mentah ke pasar," tandasnya.

(fat/fat)