Pandangan Psikolog Tentang Panic Buying Gegara Virus Corona

Esti Widiyana - detikNews
Jumat, 06 Mar 2020 13:41 WIB
Penampakan virus corona dari mikroskop elektron
Foto: Dok. NIAID (National Institute of Allergy and Infectious Diseases
Surabaya -

Setelah diumumkan dua warga Depok positif virus corona, membuat kepanikan masyarakat Indonesia. Hal ini terbukti dengan perilaku masyarakat yang memborong masker, hand sanitizer, bahan pokok atau sembako hingga empon-empon.

Menanggapi sikap panic buying masyarakat, Psikolog RS Adi Husada Surabaya, Resqita Vadika menyebut ada kecemasan berlebihan.

Menurutnya, yang ditunjukkan masyarakat ini merupakan ketidaktahuan secara pasti mengenai virus corona.

"Sebenarnya terkadang orang takut hal yang mereka belum tahu pasti atau yang belum mereka tahu secara persis. Sehingga menimbulkan panik shopping seperti saat ini," kata Qiqi, panggilan akrabnya saat dihubungi detikcom, Jumat (6/3/2020).

Dari pandangan psikolog, jika masyarakat ingin mencari tahu tentang corona itu seperti apa, mencegahnya dan seberapa besar risikonya, itu akan membuat lebih tenang. Sebab mereka sudah tahu dan mengerti cara mengatasinya.

"Padahal corona bisa dihindari dengan rajin mencuci tangan, makan sehat, minum suplemen, dan tidak mendekati orang yang terinfeksi virus tersebut," ujarnya.

Psikolog RS Adi Husada/Psikolog RS Adi Husada/ Foto: Istimewa

Sikap masyarakat dengan panic buying ini juga dipengaruhi kelatahan masyarakat. Saat melihat orang lain takut dan memborong kebutuhan, maka yang lainnya ikut-ikutan.

Qiqi merasa, kecemasan masyarakat juga bisa didasari pemberitaan Wuhan. Sebab ribuan orang meninggal akibat corona, sehingga terasa begitu menyeramkan.

"Tapi harus diketahui di Indonesia tidak seperti itu dan corona bisa dicegah. Harus diketahui juga orang meninggal akibat serangan jantung di Indonesia lebih banyak dibanding corona," jelasnya.

Oleh karena itu, dia mengimbau masyarakat agar kepanikan dan kecemasan tidak berangsur lama. Karena kecemasan dan kepanikan bisa menimbulkan stres. Saat stres hormon kortisol akan naik saat hormon kortisol tinggi, imunitas tubuh akan turun.

"Disaat seperti ini, setiap orang ingin daya tahan tubuh meningkat. Kondisi ini tentu tidak akan baik," katanya.

Bila ingin mengurangi rasa stres, Qiqi menganjurkan banyak melakukan relaksasi. Seperti olahraga, mendengarkan musik, dan melakukan hal-hal yang menyenangkan.

"Dan jangan lupa untuk tetap berpikir secara rasional," pungkasnya.

Simak Juga Video "Antisipasi Panic Buying, Kimia Farma Siapkan Ribuan Masker"

[Gambas:Video 20detik]



(fat/fat)