Dimas Kanjeng Kembali Divonis Nihil

Dimas Kanjeng Kembali Divonis Nihil

Amir Baihaqi - detikNews
Rabu, 04 Mar 2020 20:15 WIB
dimas kanjeng
Dimas Kanjeng menunggu vonis dirinya (Foto: Amir Baihaqi)
Surabaya - Taat Pribadi alias Dimas Kanjeng, terdakwa kasus penipuan dan penggelapan divonis nihil. Vonis nihil dijatuhkan karena terdakwa telah mendapat vonis 21 tahun pada perkara yang berbeda sebelumnya.

"Mengadilli, menyatakan terdakwa Taat Pribadi bin Islam Mustain bersalah melakukan tindak pidana penipuan. Menghukum terdakwa dengan pidana nihil," kata hakim ketua R Anton Widyopriyono saat membacakan putusan di Ruang Tirta, Pengadilan Surabaya, Rabu (4/3/2020).

Hakim menjelaskan, vonis nihil yang dijatuhkan kepada terdakwa sudah sesuai dengan Pasal 66 ayat (1) KUHP. Sebab, terdakwa telah dijatuhi vonis selama 21 tahun dan sudah berkekuatan hukum tetap pada kasus sebelumnya yang juga melibatkan dirinya.

"Pasal tersebut menurut majelis hakim mutlak harus dipenuhi. Hukuman perampasan hak tidak boleh melebihi 20 tahun penjara. Sebelumnya terdakwa sudah divonis 21 tahun penjara dan telah berkekuatan hukum tetap," jelas hakim.

Mendengar putusan itu, terdakwa mengaku menerima apa yang diputuskan hakim. Sedangkan menanggapi vonis tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) M Nizar mengaku akan pikir-pikir dahulu.

"Kami pikir-pikir dan akan melaporkan ke pimpinan," ujar M Nizar.

Vonis nihil kepada terdakwa sendiri bukan pertama kali ini saja. Sebab pada Rabu (5/12/2018) juga pernah dijatuhkan vonis nihil pada perkara sebelumnya juga oleh majelis hakim PN Surabaya.

Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) mendakwa Dimas Kanjeng telah melakukan penipuan atas nama Najmiah pada tahun 2013 sampai 2015. Korban tergiur menjadi santri di padepokan Dimas Kanjeng karena diiming-imingi uangnya akan digandakan.

Karena itu, korban kemudian menyerahkan uang sebesar Rp 13 miliar lebih dengan cara ditransfer secara bertahap ke salah satu rekening santrinya bernama Suryono. Uang tersebut kemudian diserahkan santrinya kepada Dimas Kanjeng. (iwd/iwd)