Tiga Partai ini Buka Peluang Bentuk Poros Baru di Pilwali Surabaya?

Faiq Azmi - detikNews
Jumat, 28 Feb 2020 16:25 WIB
Logo Pilwali Surabaya (KPU)
Foto: Istimewa
Surabaya -

Sejumlah partai politik mulai memilih masing-masing calon yang akan diusung dalam Pilwali Surabaya 2020. Dari 10 partai, tercatat ada 6 partai yang sudah terang-terangan mendukung bacawali, meski belum melalui rekomendasi resmi DPP.

Ada 4 partai yang belum menentukan pilihannya secara blak-blakan. Yakni PDIP, Golkar, PKS serta PSI. Untuk PDIP, partai berlambang banteng ini akan menunggu rekomendasi bacawali-bacawawali dari DPP pada bulan Maret mendatang.

Partai Golkar yang memiliki 5 kursi di DPRD Surabaya tidak menutup kemungkinan ingin membuat poros baru. Menurut Wakil Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) DPD Golkar Surabaya, Arif Fathoni, peluang koalisi membentuk poros baru sangat terbuka.

"Jadi pada dasarnya, Golkar membuka komunikasi politik dengan siapa pun, entah PDIP entah partai pengusung Machfud Arifin hingga PSI dan PKS untuk Pilwali Surabaya," kata pria yang akrab disapa Toni ini kepada detikcom, Jumat (28/2/2020).

Toni membeberkan bahwa komunikasi politik Golkar dengan PKS dan PSI sudah dibangun dan sangat cair. Mengingat Pilwali Surabaya saat ini tidak ada calon incumbent, Golkar berkeinginan untuk mengusung kader mereka.

"Komunikasi cair, bila semisal Golkar-PKS-PSI berkoalisi itu sudah 14 kursi dan sudah cukup. Tapi kita masih menunggu keputusan DPP, karena kita sudah setor 3 nama melalui DPD Golkar Jatim untuk diberi rekom dalam Pilwali Surabaya ini," terangnya.

Ketiga nama tersebut yakni Zahrul Azhar Asad Asumta (Gus Hans), Machfud Arifin serta satu nama yang dirahasiakan. Kemungkinan nama tersebut yakni Arif Fathoni atau Adies Kadir.

Sementara PKS tidak mempermasalahkan bila ada rencana pembentukan koalisi poros baru. PKS juga memiliki misi bisa mengusung kader internal mereka.

"Ya bisa walinya bisa wakilnya. Sejauh ini PKS sudah menjaring 5 nama kader internal. Dan kita menunggu hasil survei dulu, bila tidak memungkinkan wali ya bisa di wakilnya pokoknya kita prioritaskan kader internal," kata Sekertaris DPW PKS Jatim Lilik Hendarwati.

Lilik tidak menampik bila pihaknya telah berkomunikasi dengan banyak partai termasuk salah satunya partai pengusung Machfud. Untuk saat ini, PKS mengaku belum berkomunikasi dengan PSI.

"Dengan PDIP dengan partai-partai pendukung Machfud sudah. Golkar juga sudah, tinggal sama PSI ya yang belum komunikasi, tapi saya rasa semua masih cair kita akan segerakan berkomunikasi dengan mereka (PSI)," katanya.

PSI sendiri masih menunggu hasil konvensi bacawali yang diadakan di DPP PSI beberapa waktu silam. Ada lima nama yang saat ini sudah lolos ke tahap akhir.

"Semua masih bisa terjadi termasuk membuat poros baru dengan Golkar dan PKS. Partai sendiri masih konvensi untuk memilih siapa yang akan diberi rekomendasi pusat," kata Ketua DPD PSI Surabaya Josiah Michael.

Menurut Josiah, PSI telah berkomunikasi dengan hampir seluruh partai termasuk poros PDIP dan Machfud Arifin. Untuk PKS, Josiah menyatakan belum ada komunikasi sama sekali.

"Golkar ya sudah, semua kemungkinan bisa terjadi, cuma PKS saja yang belum," jelasnya.

Pengamat politik Universitas Trunojoyo Surokim Abdussalam sebelumnya memprediksi akan sulit terbentuk poros baru di luar PDIP dan Machfud Arifin.

"Karena begini, susah ketemunya kayaknya antara Golkar, PSI dan PKS. Kalau PSI bisa saja ke PDIP atau Machfud, kalau Golkar dan PKS bisa ke Machfud semua. Jadi poros baru ini mission impossible, karena siapa yang mau diusung, posisi 3 partai kursinya hampir sama, egonya gimana," kata Surokim.

Sebagaimana diketahui, PDIP akan menurunkan rekomendasi kepada Bacawali-Bacawawali di Surabaya pada Maret mendatang. Hal itu disampaikan oleh Sekjend PDIP Hasto Kristiyanto saat Rakerda PDIP di Sidoarjo beberapa waktu lalu.

Sementara untuk Machfud Arifin, dirinya mengklaim telah didukung 6 partai yakni PKB, Gerindra, Demokrat, NasDem, PAN dan PPP. Ke-6 partai tersebut hadir saat pemberian rekom DPP NasDem kepada Machfud beberapa waktu lalu. Namun hingga sampai saat ini, baru NasDem yang memberi rekom resmi DPP.

(fat/fat)