Pembangunan Kolam Pancing Situs Petirtaan Suci Majapahit Tak Disetop, Kenapa?

Enggran Eko Budianto - detikNews
Jumat, 28 Feb 2020 15:02 WIB
Kolam Pancing Ganggu Kajian Situs Petirtaan Suci Majapahit di Jombang
Kolam pancing yang ganggu kajian arkeologi petirtaan suci Majapahit (Foto: Enggran Eko Budianto)
Jombang -

Pembangunan kolam pemancingan ikan mengganggu kajian arkeologi terhadap petirtaan suci Majapahit di Dusun Sumberbeji, Desa Kesamben, Kecamatan Ngoro, Jombang. Sampai hari ini Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) setempat belum menghentikan pembangunan kolam pancing tersebut. Kenapa?

Kolam pancing itu milik pengusaha lokal Desie Retnowardhani, warga Desa Badang, Kecamatan Ngoro, Jombang. Pembangunan kolam pancing di atas lahan pertanian milik Desie dengan luas sekitar 1.400 meter persegi di Dusun Sumberbeji.

Penggaliannya menggunakan ekskavator atau alat berat sejak sekitar 2 pekan lalu. Sawah yang digali untuk kolam pancing sekitar 20x30 meter persegi. Kolam pancing dibuat dengan kedalaman sekitar 1 meter. Jarak kolam ini hanya sekitar 6 meter di sebelah timur situs petirtaan suci Majapahit.

Kepala Disdikbud Kabupaten Jombang Agus Purnomo mengakui pembangunan kolam pancing menggangu kajian situs petirtaan suci Majapahit di Dusun Sumberbeji. Karena terdapat kanal atau saluran pembuangan air dari petirtaan ke arah timur. Kanal purba itu diduga masih terpendam di lahan yang kini digunakan membangun kolam pancing.

"Di sebelah timur situs sumber beji sudah kami cek bersama Bupati ada saluran pembuangan," kata Agus saat dikonfirmasi detikcom, Jumat (28/2/2020).

Meski mengganggu kajian situs petirtaan suci Majapahit, Agus mengaku tidak menghentikan pembangunan kolam pancing karena beberapa hal. Menurut dia, lahan tersebut milik pribadi sehingga pemanfaatannya menjadi hak pemiliknya.

Di lain sisi, Agus berdalih tidak mempunyai perangkat hukum dalam melaksanakan perintah UU nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya untuk melindungi situs petirtaan suci Majapahit. Karena untuk melindungi situs purbakala di wilayahnya, pihaknya membutuhkan Perda Cagar Budaya.

Selain itu, situs Sumberbeji dan wilayah di sekitarnya yang berpotensi terdapat struktur purbakala juga harus lebih dulu ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya, setidaknya tingkat kabupaten.

"Perda Cagar Budaya dalam penyusunan. Kami agendakan Oktober nanti pembahasan dengan DPRD Jombang. Oleh sebab itu Pemda belum punya kewajiban penuh untuk melarang pembangunan kolam pancing tersebut," terangnya.

Oleh sebab itu, lanjut Agus, pihaknya akan turun ke situs petirtaan suci Majapahit dalam waktu dekat. Kunjungannya ke situs Sumberbeji nantinya hanya sebatas menyampaikan imbauan kepada pemilik kolam pancing dan pemilik lahan di sekitar situs.

Dia berharap pembangunan kolam pancing dihentikan sampai kajian oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim tuntas. Sedangkan pemilik lahan lainnya diimbau tidak melakukan kegiatan serupa.

"Kalau bisa kami suruh berhenti dulu sambil menunggu kajian BPCB. Para pemilik lahan di sekitar situs juga jangan melakukan aktivitas yang mengganggu kajian," tegasnya.

Agus menambahkan, Pemkab Jombang siap melakukan pembebasan lahan di sekitar situs petirtaan suci Majapahit. "Kebijakan Bupati kalau memang butuh pembebasan lahan, kami bebaskan. Tapi kami menunggu kajian dari BPCB," ujarnya.

Sementara Arkeolog BPCB Jatim Wicaksono Dwi Nugroho berpendapat, Pemerintah Desa Kesamben dan Pemkab Jombang mempunyai kewenangan untuk menghentikan pembangunan kolam pancing. Karena menurut dia, setidaknya pemilik kolam pancing harus mengurus Izin Mendirikan Bangunan (IMB).

"Masalahnya dia (pemilik kolam pancing) membangun kolam pancing tanpa izin. Itu tanah pertanian atau lahan hijau, bukan untuk usaha. Tentunya Pemerintah Desa masuk di situ perannya," jelasnya.

Sebelumnya, Wicaksono menyayangkan adanya aktivitas pembangunan kolam pancing di sisi timur situs petirtaan Majapahit. Pasalnya, kajian arkeologi terhadap situs purbakala itu belum tuntas. Ke depan, pihaknya akan melakukan kajian di lahan sekitar situs yang diduga kuat terdapat bagian situs yang masih terpendam di dalam tanah.

"Rencana kajian kami ke depan ke arah barat situs untuk menemukan saluran air masuk, kami mencari mata air petirtaan. Sisi timur kami mencari saluran pembuangan. Arah utara dan selatan apakah petirtaan Sumberbeji berdiri sendiri atau ada bangunan pendukung lainnya," ungkapnya.

Wicaksono berharap, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jombang turun tangan menghentikan pembangunan kolam pancing. "Karena adanya aktivitas pembangunan kolam di samping situs berpotensi berada di dalam kompleks situs petirtaan secara lebih besar," tandasnya.

Situs petirtaan suci Majapahit di Dusun Sumberbeji diperkirakan berdiri di area seluas 500 meter persegi. Dua tahap ekskavasi sebelumnya berhasil mengungkap bangunan kolam seluas 20x17 meter persegi. Rata-rata ketebalan dinding kolam purba ini mencapai 80 cm. Kedalaman kolam mencapai 2 meter dengan lantai berupa tatanan bata merah kuno.

Petirtaan ini dibangun dan digunakan oleh keluarga raja untuk menyucikan diri. Hanya saja tahun pembangunannya sampai saat ini belum bisa dipastikan. Para arkeolog baru mendapatkan petunjuk berupa temuan pecahan keramik dari Dinasti Yuan dan Song di Tiongkok sekitar abad 10-12 masehi. Kolam kuno ini diprediksi dibangun sejak Kerajaan Kediri dan digunakan sampai masa Majapahit.

Petirtaan Sumberbeji diyakini menjadi bagian dari kota raja. Karena terdapat temuan struktur purbakala di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngoro dan di Dusun Kedaton, Desa Bulurejo, Kecamatan Diwek. Situs Sugihwaras berupa struktur dari bata merah yang memanjang.

Situs di Dusun Kedaton juga berupa struktur dari susunan bata merah. Bagian yang sudah nampak sepanjang 11 meter. Bangunan ini membentang dari selatan ke utara. Tingginya 1,3 meter atau terdiri dari 25 lapis bata merah. Setiap bata penyusunnya mempunyai dimensi 32x18x5 cm.

Situs ini berjarak sekitar 100 meter dari situs Sugihwaras. Baik situs Kedaton maupun Sugihwaras diduga sisa-sisa keraton Majapahit dari abad 14 masehi. Kedua bangunan kuno ini berada sekitar 3,8 Km di sebelah utara petirtaan suci Majapahit di Sumberbeji.

(iwd/iwd)