Round-Up

Emosi Terpendam Kakak yang Bunuh dengan Kejam Bocah SD yang Bully Adiknya

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 27 Feb 2020 08:13 WIB
pembunuhan di mojokerto
Trisno Sutejo, pelaku pembunuhan Dio (Foto: Enggran Eko Budianto)
Mojokerto -

Setelah 24 hari berlalu, misteri kematian Ardio Willian Oktaviano alias Dio (13) terungkap. Kerja keras polisi membuahkan hasil dengan menangkap pelakunya.

Tak dinyana, pelaku adalah tetangga korban sendiri. Pelaku adalah kakak beradik bernama Trisno Sutejo (19) dan IS (17). Dendam menjadi motif pelaku. Pelaku melakukan aksinya dengan sadis.

"Pelaku pembunuhan Ardio kami tangkap setelah kami melakukan penyelidikan secara intensif selama 24 hari. Yaitu berinisial TS (19) dan IS (17). Keduanya kakak adik," kata Kapolres Mojokerto Kota AKBP Bogiek Sugiyarto saat jumpa pers di kantornya, Jalan Bhayangkara, Rabu (26/2/2020).

Bogiek mengatakan kasus ini berawal saat adik mereka, SS, mengadu bahwa korban telah dipukul dan diejek korban saat di sekolah. SS merupakan teman sekolah korban di SDN Ketemasdungus, Kecamatan Puri. SS mengaduk kepada kakaknya pada Minggu (26/1).

Tanpa berpikir panjang, Trisno mengajak adik kandungnya, IS, menghabisi Dio. Adik-kakak asal Dusun Sangkan, Desa Ketemasdungus, itu membawa korban ke Jembatan Gumul, Petak 31, hutan Desa/Kecamatan Kemlagi, Mojokerto, pada Rabu (29/1). Jaraknya sekitar 30 km dari kampung mereka.

Sekitar pukul 23.10 WIB, Trisno mencekik leher Dio dan membenturkan kepalanya ke tembok pembatas jembatan. Korban pun terkulai lemas dan jatuh ke tanah.

Bukannya kasihan, pelajar kelas XI SMA itu justru menginjak-injak tubuh korban hingga tak bergerak lagi. Saat penganiayaan itu terjadi, IS menunggu di atas sepeda motor.

"Tersangka TS lalu menengkurapkan tubuh korban, menarik celananya, lalu menusuk dubur korban dengan bambu," kata Bogiek.

Emosi Terpendam Kakak yang Bunuh dengan Kejam Bocah SD yang Bully AdiknyaFoto: Enggran Eko Budianto

Bambu yang digunakan Trisno untuk menusuk dubur korban berukuran sekitar 22 cm dengan diameter sekitar 1,5 cm. Kedua ujungnya tampak tumpul bekas dipotong secara rapi.

"Apa motifnya (tersangka menusuk dubur Dio dengan bambu) masih kami dalami. Korban tidak disodomi, tapi ditusuk dengan bambu," terang Bogiek.

Selanjutnya, Trisno meminta bantuan IS melempar mayat Dio ke sungai tepat di bawah Jembatan Gumul. Kedua tersangka lantas pulang ke rumah mereka pada Kamis (30/1) sekitar pukul 01.00 WIB.

Mayat Dio baru ditemukan pengguna jalan keesokan harinya, Kamis (30/1), sekitar pukul 06.00 WIB. Korban tengkurap di dasar sungai yang dangkal. Separuh kepala siswa kelas IV SDN Ketemasdungus ini tertancap di lumpur.

Tubuh bocah yang usianya belum genap 13 tahun itu ditemukan sekitar 5 meter di bawah jembatan Desa/Kecamatan Kemlagi. Jembatan ini berada di jalan tengah hutan yang menghubungkan Mojokerto dengan Lamongan. Saat ditemukan, korban masih memakai baju koko warna gelap dan celana pendek motif polkadot warna abu-abu gelap.

(iwd/iwd)