Pembangunan Kolam Pancing Ganggu Kajian Situs Majapahit di Jombang

Enggran Eko Budianto - detikNews
Selasa, 25 Feb 2020 15:34 WIB
Kolam Pancing Ganggu Kajian Situs Petirtaan Suci Majapahit di Jombang
Kolam pemancingan ganggu kajian petirtaan suci majapahit (Foto: Enggran Eko Budianto/detikcom)
Jombang -

Kajian arkeologi terhadap petirtaan suci Majapahit di Dusun Sumberbeji, Desa Kesamben, Kecamatan Ngoro, Jombang terganggu aktivitas pembangunan kolam pemancingan ikan. Pasalnya, kolam pancing itu dibuat di lahan yang berpotensi terdapat situs purbakala yang masih terpendam.

Kepala Desa Kesamben Wandoko Sungkowo Yudha mengatakan, kolam pancing itu milik pengusaha lokal Desie Retnowardhani, warga Desa Badang, Kecamatan Ngoro, Jombang. Pembangunan kolam pancing di atas lahan pertanian dengan luas sekitar 1.400 meter persegi di Dusun Sumberbeji itu berlangsung sejak 2 pekan yang lalu.

Penggaliannya menggunakan ekskavator atau alat berat. Sawah yang digali untuk kolam ikan sekitar 20 x 30 meter persegi. Kedalaman kolam yang kini tergenang air itu sekitar 1 meter.

Yang mengkhawatirkan, kata Yudha, kolam pancing itu hanya sekitar 6 meter di sebelah timur situs petirtaan suci Majapahit. Karena situs purbakala itu belum selesai dikaji secara arkeologis. Dia mengaku telah melaporkan aktivitas penggalian kolam ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jombang dan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim.

"Bu Desie sudah pamit ke saya. Saya sendiri melaporkan Dinas Pendidikan dan BPCB. Kami hanya memberintahu kalau ada penggalian kolam pancing. Dari Dinas Pendidikan tidak datang. Ada petugas 2 orang dari BPCB untuk mengantisipasi kalau ada temuan situs baru," kata Yudha saat dikonfirmasi detikcom, Selasa (25/2/2020).

Selama proses penggalian kolam pancing, kata Yudha, 3 bongkahan struktur bangunan yang tersusun dari bata merah kuno. Ketiga struktur itu berukuran 50x30 cm, 50x25 cm dan 30x10 cm. Saat ini ketiga bongkahan itu diamankan di situs petirtaan Majapahit di Sumberbeji

"Bentuk bongkahan berupa potongan jaladwara (pancuran air) kemungkinan bekas galian lama. Satunya bentuknya mirip piramid sekitar 6 lapis bata. Ukuran batanya sama dengan di situs Sumberbeji. Kemungkinan puncak menara yang ambruk," terangnya.

Kendati begitu, Yudha tidak menghentikan pembangunan kolam pancing karena merasa tidak mempunyai kewenangan. Menurut dia, kewenangan berada di tangan Pemkab Jombang dan BPCB Jatim.

"Sudah saya sampaikan kalau ini mau ada pembuatan kolam pancing, tapi tidak ada respons. Akhirnya kami tidak bersikap karena kami tidak punya kewenangan. Terlebih lagi itu lahan milik pribadi," tegasnya.

Arkeolog BPCB Jatim Wicaksono Dwi Nugroho menyayangkan adanya aktivitas pembangunan kolam pancing di sisi timur situs petirtaan Majapahit. Pasalnya, kajian arkeologi terhadap situs purbakala itu belum tuntas. Ke depan, pihaknya akan melakukan kajian di lahan sekitar situs yang diduga kuat terdapat bagian situs yang masih terpendam di dalam tanah.

"Rencana kajian kami ke depan ke arah barat situs untuk menemukan saluran air masuk, kami mencari mata air petirtaan. Sisi timur kami mencari saluran pembuangan. Arah utara dan selatan apakah petirtaan Sumberbeji berdiri sendiri atau ada bangunan pendukung lainnya," ungkapnya.

Wicaksono berharap, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jombang turun tangan menghentikan pembangunan kolam pancing. "Karena adanya aktivitas pembangunan kolam di samping situs berpotensi berada di dalam kompleks situs petirtaan secara lebih besar," tandasnya.

Situs petirtaan suci Majapahit di Dusun Sumberbeji diperkirakan berdiri di area seluas 500 meter persegi. Dua tahap ekskavasi sebelumnya berhasil mengungkap bangunan kolam seluas 20 x 17 meter persegi. Rata-rata ketebalan dinding kolam purba ini mencapai 80 cm. Kedalaman kolam mencapai 2 meter dengan lantai berupa tatanan bata merah kuno.

Petirtaan ini dibangun dan digunakan oleh keluarga raja untuk menyucikan diri. Hanya saja tahun pembangunannya sampai saat ini belum bisa dipastikan. Para arkeolog baru mendapatkan petunjuk berupa temuan pecahan keramik dari Dinasti Yuan dan Song di Tiongkok sekitar abad 10-12 masehi. Kolam kuno ini diprediksi dibangun sejak Kerajaan Kediri dan digunakan sampai masa Majapahit.

Petirtaan Sumberbeji diyakini menjadi bagian dari kota raja. Karena terdapat temuan struktur purbakala di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngoro dan di Dusun Kedaton, Desa Bulurejo, Kecamatan Diwek. Situs Sugihwaras berupa struktur dari bata merah yang memanjang.

Situs di Dusun Kedaton juga berupa struktur dari susunan bata merah. Bagian yang sudah nampak sepanjang 11 meter. Bangunan ini membentang dari selatan ke utara. Tingginya 1,3 meter atau terdiri dari 25 lapis bata merah. Setiap bata penyusunnya mempunyai dimensi 32 x 18 x 5 cm.

Situs ini berjarak sekitar 100 meter dari situs Sugihwaras. Baik situs Kedaton maupun Sugihwaras diduga sisa-sisa keraton Majapahit dari abad 14 masehi. Kedua bangunan kuno ini berada sekitar 3,8 Km di sebelah utara petirtaan suci Majapahit di Sumberbeji.

(fat/fat)