Eni, Penyandang Difabel Jual Durian di Blitar yang Sangat Mandiri

Erliana Riady - detikNews
Senin, 24 Feb 2020 11:02 WIB
Penyandang Difabel Jualan Durian Dibayar Uang Palsu
Foto: Erliana Riady
Blitar -

Akun Facebook Fandi Achmad Pahalawan menulis jika Eni hidup sebatang kara, tidak benar. Eni hidup bersama ayah ibu dan adiknya di RT 2 RW 8 Desa Kedawung Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar.

Orang tua Eni juga tergolong mampu. Rumah yang mereka tempati permanen dan cukup luas. Kakak Eni ada yang menjadi TKW di Malaysia dan satunya punya usaha di Kediri. Eni tinggal dengan kedua orang tuanya dan seorang adik perempuannya. Mereka tidak berkenan jika rumahnya diambil gambarnya oleh detikcom.

Eni merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Namun hanya Eni yang sebagai penyandang tuna grahita. Walaupun begitu, sejak kecil Eni selalu mandiri. Sejak tidak sekolah lagi di SD, dia sudah mulai belajar mencari uang sendiri. Menggunakan arko, Eni keliling dari rumah ke rumah mengumpulkan rongsokan dan disetor ke pemulung yang melewati desanya.

Baru jika musim durian tiba, pekerjaan itu ditinggalkan dan beralih menjadi penjual durian. Kegiatan itu dilakoninya hingga usianya menuju 51 tahun.

"Aku lahir tahun 69. Yo nglumpukne rongsokan kui lek ora dodol duren. Kui tak gowo nggawe kui (saya lahir tahun 1969. Ya mengumpulkam rongsokan itu kalau tidak jual durian. Saya bawa pakai arko itu)," tuturnya sambil menunjuk arko di sebelah kanannya.

Penampilan Eni memang terlihat tidak terawat. Bajunya lusuh dan rambutnya mulai gimbal karena jarang disisir. Eni mengaku masih perawan dan tidak ingin menikah.

"Yo adus bendino tapi ra macak. Emoh rabi, ngene ae penak golek duit (Ya mandi setiap hari tapi tidak dandan. Tidak mau menikah, begini saja enak cari duit)," imbuhnya sambil tertawa.

Seorang tetangga yang tak mau disebutkan namanya bilang, kedua orang tua Eni sakit sepuh. Adiknya yang merawat sekarang hingga tidak begitu memperhatikan Eni lagi.

"Sejak habis Subuh sudah keluar bawa arkonya mbak. Pulang-pulang nanti kalau mau Magrib. Pinter dia cari uang," pungkasnya.

(fat/fat)