Selain Pupuk Organik, RPH Situbondo Juga Mampu Hasilkan Biogas

Ghazali Dasuqi - detikNews
Rabu, 12 Feb 2020 08:20 WIB
Rumah Potong Hewan Situbondo
Foto: Ghazali Dasuqi
Situbondo - Limbah Rumah Potong Hewan (RPH) Situbondo kini 'disulap' menjadi bahan bermanfaat. Selain dikelola menjadi pupuk organik, limbah dari perut ternak sapi potong itu juga dijadikan biogas.

Sebagai pengelola RPH, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Situbondo ke depan akan menyalurkan biogas itu ke permukiman warga. Apalagi kalau bukan untuk membantu warga sekitar.

"Apalagi sekarang sudah ada rencana harga gas elpiji akan naik. Tentu, distribusi biogas akan sangat membantu warga sekitar RPH ini," kata Kepala DPKH Situbondo, drh Hasanuddin Riwansia kepada detikcom, Rabu (12/2/2020).

Untuk kepentingan tersebut, papar pria yang akrab disapa drh Udin, memang dibutuhkan penambahan kapasitas pengelolaan limbah. Khususnya untuk kapasitas tandon digester, sebagai alat untuk memproduksi biogas. Saat ini, tandon digester hanya memiliki daya tampung 3-4 meter kubik. Padahal, yang dibutuhkan mencapai 40 meter kubik.

"Kalau digester sudah 40 meter kubik insyaallah sudah kelar. Kami bisa menyuplai biogas ke permukiman untuk membantu warga," tandas drh Udin didampingi Ir Sulistiyani, Kabid Keswan dan Mavet DPKH Situbondo.

Tak hanya digester saja. Seluruh tahapan pengelolaan limbah RPH itu juga memerlukan penambahan kapasitas. Mulai dari sumur pengadukan, inlet, hingga outlet. Sebab, saat ini kapasitas yang ada belum mampu menampung limbah isi perut sapi yang dipotong setiap harinya di RPH Desa Sumberkolak.

"Setiap hari masih ada yang dibuang. Makanya, kami sedang berusaha segera ada penambahan kapasitas. Supaya pengelolaan limbah ini jadi lebih optimal, baik untuk produksi pupuk organik maupun biogas. Insyaallah pengelolaan limbah RPH ini yang pertama di Jawa Timur, atau bahkan di Indonesia," paparnya.

Selain mengelola limbah yang masuk ke penampungan, DPKH Situbondo juga cukup perhatian terhadap sisa limbah yang banyak berserakan di selokan-selokan dalam lingkungan RPH. DPKH sengaja menebar sekitar 10.000 benih bibit ikan lele di selokan tersebut.

Sejak itulah, selokan di lingkungan RPH menjadi bersih dan airnya berubah agak bening. Padahal, sebelumnya selokan yang ada di RPH terkesan kumuh, kotor, dan cukup bau. Bahkan, sampai dipenuhi lalat dan jentik. Sebab, banyak sisa limbah yang meluber dan jatuh ke selokan. Baik sisa darah, kotoran, serpihan daging, dan sebagainya.

"Sejak ditebar lele semua sudah berubah. Limbah itu menjadi pakan alami lele, sehingga tidak perlu dibersihkan lagi. Alhamdulillah, sekarang sudah bersih dan tidak bau lagi," pungkas drh Udin. (iwd/iwd)