Sepak Terjang Gus Sholah di Indonesia, Mulai Politik hingga HAM

Enggran Eko Budianto - detikNews
Senin, 03 Feb 2020 08:24 WIB
Gus Sholah meninggal dunia
Gus Sholah meninggal dunia (Foto: Enggran Eko Budianto/detikcom)
Jombang -

Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng, Jombang KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah tutup usia. Selain ulama, adik kandung Gus Dur ini juga dikenal sebagai tokoh HAM di Indonesia. Seperti apa sepak terjangnya.

Dirangkum detikcom dari laduni.id, Gus Sholah lahir di Jombang pada 11 September 1942. Dia anak ketiga dari 6 bersaudara pasangan KH Wahid Hasyim dan Sholichah. Ayahnya merupakan Menteri Agama pertama di Indonesia.

Gus Sholah mengenyam pendidikan dasarnya di dua sekolah berbeda. Yaitu di SD Kebaktian Rakyat Indoensia Sulawesi (KRIS), lalu berlanjut di SD Perwari. Tahun 1955-1958 dia menimba ilmu di SMPN I Cikini, Jakarta. Adik kandung Presiden KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur ini tamat dari SMA Budi Utomo tahun 1962.

Lulus SMA, Gus Sholah melanjutkan pendidikannya di Institut Teknologi Bandung (ITB). Dia mengambil jurusan arsitektur. Semasa kuliah, Gus Sholah aktif dalam kegiatan senat dan dewan mahasiswa, serta menjadi aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Tahun 1968 Gus Sholah menikah dengan Farida, putri mantan Menteri Agama KH Syaifudin Zuhri. Dari pernikahannya dengan Farida, ulama yang mempunyai nama kecil Salahuddin Al Ayyubi ini dikaruniai 3 anak. Yaitu Irfan Asy'ari Sudirman atau Ipang Wahid, Iqbal Billy, dan Arina Saraswati.

Gus Sholah memulai karirnya di bidang bisnis konstruksi. Bersama dua teman dan kakak iparnya, dia mendirikan perusahaan konstruksi tahun 1970.

"Gus Sholah memulai karirnya di bidang konstruksi. Beliau pernah menjadi direktur di beberapa perusahaan konsultan dalam maupun luar negeri," kata Pengurus Ponpes Tebuireng Teku Azwani kepada detikcom, Senin (3/2/2020).

Sejak 1998, Gus Sholah mulai aktif menulis. Tulisan-tulisannya menyoroti berbagai persoalan yang dihadapi umat dan bangsa Indonesia banyak dimuat di media cetak nasional. Tidak hanya itu, dia juga menulis beberapa judul buku.

Yaitu Negeri di Balik Kabut Sejarah (November 2001), Mendengar Suara Rakyat (September 2001), Menggagas Peran Politik NU (2002), Basmi Korupsi, Jihad Akbar Bangsa Indonesia (November 2003) dan Ikut Membangun Demokrasi, Pengalaman 55 Hari Menjadi Calon Wakil Presiden (November 2004).

Gus Sholah juga menulis buku Berguru pada Realitas: Refleksi Pemikiran KH Salahuddin Wahid menuju Indonesia Bermartabat (2011), Memadukan Keindonesiaan dan Keislaman (2017), serta Mengenal Lebih Dekat Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari (2018).

"Karir beliau antara lain pernah menjadi Dewan Penasehat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Dewan Pimpinan Pusat Partai Kebangkitan Umat (PKU), salah satu Ketua PBNU periode 1999-2004, serta anggota Komnas HAM periode 2002-2007," terang Azwani.

Dalam percaturan politik nasional, Gus Sholah pernah menjadi calon Wakil Presiden pada Pemilu 2004. Saat itu dia dipinang Partai Golkar untuk berpasangan dengan Wiranto. Namun, pasangan Wiranto-Gus Sholah kalah dalam putaran pertama Pemilu pada 5 Juli 2004.

"Sejak 13 April 2006 Gus Sholah menjadi pengasuh Ponpes Tebuireng sampai sekarang. Beliau menggantikan pamannya KH Yusuf Hasyim atau Pak Ud," ungkap Azwani.

Di bawah kepemimpinan Gus Sholah, Ponpes Tebuireng berkembang pesat. Bahkan saat ini pesantren tersebut mempunyai 15 cabang di Indonesia.

"Gus Sholah mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pada 10 Desember 2011. Salah satunya karena kesuksesannya merevitalisasi pendidikan di Tebuireng," tandas Azwani.

(fat/fat)