Penetapan Tersangka Kasus Dumping Limbah B3 di Mojokerto Terganjal Saksi Ahli

Enggran Eko Budianto - detikNews
Kamis, 23 Jan 2020 07:51 WIB
Limbah sludge sampah yang dibuang (Foto: Enggran Eko Budianto/File)
Mojokerto -

Polisi belum menetapkan tersangka kasus pembuangan (dumping) limbah B3 di lahan bekas galian C Mojokerto. Pasalnya, berkas penyidikan kasus ini belum dilengkapi keterangan 2 saksi ahli.

Kanit Pidana Tertentu (Pidter) Satreskrim Polres Mojokerto Iptu Sukaca mengatakan, alat bukti kasus dumping limbah B3 di lahan bekas galian C Dusun Kecapangan, Desa/Kecamatan Ngoro belum lengkap. Karena pihaknya belum mendapatkan keterangan dari dua saksi ahli.

"Kami harus melengkapi dengan saksi ahli dari DLH (Dinas Lingkungan Hidup) Jatim dan ahli pidana dari Unair (Universitas Airlangga di Surabaya)," kata Sukaca kepada detikcom di Mapolres Mojokerto, Jalan Gajah Mada, Kecamatan Mojosari, Kamis (23/1/2020).

Sukaca menjelaskan keterangan ahli dari DLH Jatim diperlukan karena penyidik tidak mempunyai kapasitas untuk menentukan jenis limbah yang dibuang di lahan bekas galian C Dusun Kecapangan. Oleh sebab itu, keterangan ahli dari DLH diperlukan untuk memastikan limbah tersebut jenis sludge kertas yang tergolong B3.

"Kalau ahli pidana untuk meyakinkan penyidik agar jangan sampai saat berkas perkara kami serahkan ke JPU (Jaksa Penuntut Umum) dinyatakan tidak lengkap karena kurang ahli pidana," ujarnya.

Permintaan keterangan terhadap kedua ahli, kata Sukaca, telah dikirim. Menurut Sukaca, keterangan ahli akan didapatkan harii ini. Dengan begitu, gelar perkara dumping limbah B3 bisa dilakukan dalam pekan depan.

"Setelah kami dapatkan keterangan ahli, kami rencanakan gelar perkara minggu depan untuk menentukan tersangka," terangnya.

Dalam kasus ini, penyidik telah memeriksa 21 saksi. Mulai dari warga Dusun Kecapangan, manajemen tiga perusahaan, 3 sopir dump truck yang kepergok membuang limbah, hingga pemilik lahan bekas galian C Zainul Arifin (46), warga Desa Manduro Manggung Gajah, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto.

Polisi juga menyita 10 truk limbah B3 jenis sludge kertas sebagai barang bukti. Terdiri dari 7 truk limbah yang sudah dibuang di lahan bekas galian C Dusun Kecapangan dan 3 truk limbah yang belum sempat dibongkar karena kepergok warga.

"Yang sudah dibuang di lahan kami angkut sesuai permintaan warga agar tidak terjadi pencemaran. Total 10 truk limbah sludge kertas saat ini kami titipkan di pengolahan limbah B3," tandas Sukaca.

Kasus dumping limbah B3 ilegal ini terungkap setelah warga mengamankan 3 dump truck beserta sopirnya pada Minggu (15/12). Saat itu, ketiga sopir kepergok warga akan membuang limbah sludge kertas di lahan bekas galian C Dusun Kecapangan. Lahan bekas galian itu diketahui milik Zainul Arifin (46).

Dump truck yang dihadang warga jenis Mitsubishi Fuso nopol T 9602 DB, T 9772 DCT, serta T 9750 DA. Ketiga dump truck itu berisi limbah sludge kertas.

Ketiga sopir dump truck tersebut masih berstatus saksi. Yaitu Muhlisin (47), warga Desa Keboan, Kecamatan Ngusikan, Jombang, Moh Basuki (35), warga Desa Kutamekar, Kecamatan Ciampel, Karawang, serta Armanurrohim (38), asal Desa Ngimbangan, Kecamatan Mojosari, Mojokerto.

Kasus ini menyeret 3 perusahaan di Jatim dan Jabar. Yaitu pabrik kertas PT Adiprima Suraprinta di Desa Sumengko, Kecamatan Wringin Anom, Kabupaten Gresik, pabrik pengolahan limbah B3 PT Triguna Pratama Abadi di Gintungkerta, Kecamatan Klari, Karawang, Jabar, serta perusahaan transporter limbah B3 PT Tenang Jaya Sejahtera di Karawang.

Penyidik telah menggali keterangan dari manajemen ketiga perusahaan. Rupanya ketiga perusahaan menjalin kerjasama untuk menangani limbah jenis sludge kertas.

PT Adiprima Suraprinta sebagai penghasil limbah sludge kertas bekerjasama dengan transporter PT Tenang Jaya Sejahtera.
Oleh PT Tenang Jaya, seharusnya limbah yang tergolong Bahan Beracun dan Berbahaya itu dibawa ke pengolahan PT Triguna Pratama Abadi. Sayangnya, limbah B3 tersebut kepergok warga akan dibuang di lahan bekas galian C milik Zainul Arifin (46).

(fat/iwd)