Terjerat Dua Kasus, Pria Ini Rayakan Ulang Tahun di Penjara

Muhammad Aminudin - detikNews
Jumat, 17 Jan 2020 20:45 WIB
Foto: Muhammad Aminudin
Malang - Misbah Eka Prasetya (18) harus merayakan hari jadinya di dalam penjara. Sebab, warga Gubeng, Kota Surabaya, ini harus mempertanggungjawabkan perbuatan pidana yang dilakukan.

Misbah ditangkap karena kasus pencurian dengan penggelapan. Kapolresta Malang Kota Kombes Leonardus Simarmata menuturkan penangkapan tersangka yang berultah tanggal 23 Januari ini berawal dari laporan korban setelah kehilangan tas berisi ponsel.

"Pencurian dilakukan di salah satu pusat perbelanjaan. Yakni berupa satu HP merek Samsung ketika korban berbelanja pada 22 November 2019 lalu," ujar Leonardus saat konferensi pers di Jalan Jaksa Agung Suprapto, Kota Malang, Jumat (17/1/2020).

Dalam aksinya, kata Leonardus, tersangka mulanya mengintai korban saat menggunakan ponselnya sampai kemudian dimasukan ke tas kembali.


Setelah itu, korban yang asyik berbelanja dan meninggalkan tas ranselnya di atas kursi, dimanfaatkan tersangka untuk mengambilnya.

"Setelah berhasil mendapatkan ponsel itu, tersangka kemudian membeli dosbook melalui toko online. Kemudian ponsel dijual di salah satu konter HP di Jalan Soekarno-Hatta," beber Leonardus.

Setelah dilakukan penyelidikan, tersangka akhirnya ditangkap. "Tersangka dijerat pasal 362 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal lima tahun penjara," tegas Leonardus.

Setelah ditelusuri, Misbah ternyata juga sedang tersandung kasus lain. Status saat ini juga ditahan atas perkara lain yaitu kasus penipuan.

"Dan saat ini, sudah selesai tahap pertama dan akan dilanjutkan ke kejaksaan," pungkas Leonardus.


Dalam konferensi pers itu, Polresta Malang Kota turut mengungkap kasus penggelapan dengan tersangka seorang pegawai SPBU.

Tersangka adalah Dika Pratama Putra (20), warga Jalan Mawar, Kota Malang, yang terbukti melakukan penggelapan dari hasil penjualan BBM.

Leonardus mengatakan, tersangka bertugas sebagai operator mesin BBM. Setelah selesai bekerja dan hendak melaporkan hasil penjualan, dia memanipulasi mesin nota hasil penjualan.

"Jadi, mesin itu bergerak menghitung nominal uang, ketika sudah sampai nominal yang diinginkan, mesin nota tersebut dikembalikan ke angka nol dan langsung diprint," ujar Leonardus.

Peristiwa itu terjadi sebanyak tiga kali dengan total kerugian Rp 4,8 juta. Peristiwa ini terungkap setelah bagian administrasi SPBU melakukan pengecekan. Setelah curiga sering terjadi selisih angka pada hasil penjualan. (iwd/iwd)