Kabur dari Rumah 5 Hari, Pelajar SMP di Banyuwangi Ditemukan Tewas di Hutan

Ardian Fanani - detikNews
Kamis, 16 Jan 2020 20:31 WIB
Foto: Istimewa
Foto: Istimewa
Banyuwangi - Seorang pelajar SMP di Banyuwangi ditemukan tewas di dalam hutan jati petak 40 KRPH Grajagan BKPH Curah Jati RPH Banyuwangi Selatan, Desa Grajagan Kecamatan Purwoharjo Banyuwangi. SVD (15) ditemukan tewas setelah 5 hari kabur dari rumah pamannya.

Hampir sepekan warga dan aparat kepolisian mencari keberadaan SVD. Baru, Kamis (16/1/2020), pencari kayu menemukan sesosok mayat di sekitar sungai kering di dalam hutan.

Pertama kali ditemukan, kondisi jenazah korban berinisial SVD (15) tersebut sangat mengenaskan. Tubuhnya sudah membengkak dan mengeluarkan bau busuk menyengat dengan kondisi tidak memakai baju dan celana alias telanjang.

Korban yang merupakan warga Dusun Kampung Baru Desa Grajagan Kecamatan Purwoharjo Banyuwangi tersebut, selama ini tinggal bersama pamannya sejak kelas 6 SD karena ibunya bekerja di pulau Bali. Sedangkan bapaknya sudah lama meninggal dunia. Korban tercatat sebagai siswa kelas 2 pada SMPN 3 Grajagan.


Kapolsek Purwoharjo Banyuwangi, AKP Ali Ashari mengatakan, menurut keterangan pamannya, pada hari Sabtu, 11 Januari 2020 lalu sekira pukul 17.00 WIB, korban datang ke rumahnya dengan kondisi mabuk berat karena mengaku setelah makan jamur kepong. Bahkan dia sempat meminta air kelapa muda.

"Saat diajak berbicara itulah tiba tiba korban muntah. Pamannya pun membersihkan bekas kotoran korban itu, tapi rupanya korban malah berlari ke arah hutan jati dengan memakai kaos dan celana pendek milik kakaknya," ujar Kapolsek kepada wartawan.

Mendapati hal ini, paman korban berusaha mencari keberadaan korban dengan masuk ke dalam hutan jati tersebut.

"Tapi karena hari sudah beranjak malam maka pencarian dihentikan dan dilanjutkan kembali pada esok pagi," tutur Kapolsek.

Ali mengaku upaya pencarian inipun tidak membuahkan hasil hingga akhirnya korban ditemukan pada Kamis (16/01/2020) sudah tewas dan jenazahnya tergeletak di sungai kering di dasar tebing dengan kedalaman sekitar 5 meter.


"Sebelum menemukan jenazah korban, paman dan ibu korban yang kebetulan datang dari Bali mendapati celana dan kaos yang sebelumnya dipakai korban, berserakan di tempat yang terpisah," papar Ali.

Sementara, ibu korban sengaja datang setelah mendapat kabar jika anaknya tersebut hilang di dalam hutan. Selanjutnya, jenazah korban di evakuasi dan dilakukan pemeriksaan oleh tim medis dari puskesmas Grajagan.

"Di sini tidak ditemukan adanya tanda tanda penganiayaan pada tubuh korban. Hanya ditemukan lebam mayat serta pada kepala bagian belakang terdapat luka lebam diduga bekas benturan batu," ujar Kapolsek.

Sementara, pihak keluarga mengaku menerima kematian korban dan tidak berkenan dilakukan autopsi terhadap jenazah korban. Hal itu diperkuat dengan surat pernyataan yang ditandatangani pihak keluarga. (iwd/iwd)