Psikolog Sebut Anak Takut Tinggalkan Game Online Karena Kerap Dibully

Erliana Riady - detikNews
Rabu, 15 Jan 2020 09:17 WIB
Anak kecanduan game online (Foto: Erliana Riady/detikcom)
Anak kecanduan game online (Foto: Erliana Riady/detikcom)
Blitar - 18 Anak diindikasi kecanduan game online. Psikolog yang dilibatkan dalam konseling pemulihan menyebut, mereka kecanduan game online yang sulit ditinggalkan. Karena konsekuensinya, mereka juga akan ditinggal teman sepermainannya.

Satu di antara psikolog itu adalah Rachmad Widiharto. Rachmad mengaku kesulitan menangani pemulihan kondisi anak yang kecanduan gawai. Khususnya game online.

"Ada unsur candu dalam game online itu. Selain itu, game online dimainkan dengan cara berkelompok. Sehingga sebelum permainan itu usai, sang anak benar-benar tidak bisa meninggalkannya," ungkap Rachmad dihubungi detikcom, Selasa (14/01/2020).

Saat dalam kondisi mendesak si anak terpaksa meninggalkan permainan, lanjutnya, dia akan dibully teman-teman dalam kelompoknya. Aksi bully itu menurut Rachmad, tak hanya dilakukan di dunia maya. Seperti medsos atau grup WA. Namun berlanjut di dunia nyata.


"Iya anak-anak ini benar-benar takut untuk meninggalkan permainan. Karena kalau mereka terpaksa, grup itu jadi kalah. Wah..gara-gara kamu kelompok kita kalah. Bully-an itu berlanjut sampai ketemu di sekolah lho. Konsekuensinya, mereka akan kehilangan teman sepermainan," bebernya.

Bagaimana anak bisa "terjebak" dalam candu game online, Rachmad menilai itu semua tak bisa dilepaskan dari kebiasaan orang tuanya. Tingkat ekonomi rendah, membuat kedua orang tua mereka sibuk mencari uang. Sehingga perhatian kepada anak berkurang.

"Anak tidak dilibatkan dalam kesibukan atau kegiatan ortu sehari-hari. Nanti malah ngrusuhi. Jadi biar diam, anak dipegangi HP sejak kecil. Dampaknya baru dirasakan sekarang," ucapnya.



Tonton juga video Kecanduan Game Online, Residivis Ini Nekat Curi Uang Kotak Amal:

[Gambas:Video 20detik]

(fat/fat)