Dosen ITS Tengah Teliti Alat Pendeteksi Gelatin Babi

Imam Wahyudiyanta - detikNews
Selasa, 07 Jan 2020 07:46 WIB
Dr rer nat Fredy Kurniawan tengah melakukan peneliian (Foto: Humas ITS)
Surabaya - Alat pendeteksi gelatin babi dalam makanan olahan untuk pengendalian produk halal tengah diteliti. Kali ini Dr rer nat Fredy Kurniawan SSi MSi, dosen dari Departemen Kimia ITS, bersama rekan-rekannya melakukan penelitian mengenai alat tersebut.

Saat ini berbagai macam produk makanan olahan banyak diburu konsumen. Sayangnya, masih banyak produsen yang tidak mencantumkan informasi yang jelas mengenai bahan-bahan pada produknya. Kurangnya informasi tersebut menjadi kekhawatiran bagi sebagian golongan masyarakat selaku konsumen, khususnya masyarakat muslim.

Salah satu yang banyak mencemaskan warga muslim adalah tentang kandungan gelatin babi pada produk makanan. Hal itulah yang menjadi faktor pendorong Fredy Kurniawan bersama rekan-rekannya dalam melakukan penelitian tersebut.

Gelatin sendiri banyak digunakan dalam industri obat-obatan dan makanan. Umumnya, gelatin digunakan untuk penstabil, penebal, dan pengenyal pada roti. Dapat juga sebagai tambahan pada permen lunak, es krim, jeli, dan lain-lainnya.

Sumber gelatin terbesar berasal dari kulit babi, yaitu sebesar 45,8 persen. Sumber lainnya adalah dari kulit sapi 28,4 persen, tulang 24,2 persen dan 1,6 persen sisanya berasal dari bahan baku selain kulit dan tulang. Secara fisik, gelatin babi dan sapi sangat mirip sehingga susah dibedakan.


Dosen yang baru saja dilantik sebagai Kepala Departemen Kimia ITS ini mengungkapkan, metode yang digunakan untuk membuat alat pendeteksi gelatin babi ini adalah sensor Quartz Crystal Microbalance (QCM) yang dimodifikasi. QCM adalah salah satu metode elektrokimia yang tergolong sederhana dalam peralatan dan operasionalnya.

"Kunci dari cara kerja sensor ini adalah material spesifik yang dapat membedakan kedua jenis gelatin, jadi respon yang diberikan oleh sensor terhadap gelatin babi dan selain babi bisa dibedakan secara nyata atau signifikan," jelas Fredy dalam siaran pers yang diterima detikcom melalui Humas ITS, Selasa (7/1/2020).

Cara kerja alat ini yaitu dengan mendeteksi perbedaan respon yang diberikan antara gelatin babi dan selain babi.

"Apabila mengandung gelatin babi maka respons frekuensi yang diberikan alat akan naik, sedangkan untuk kandungan selain babi respons frekuensinya akan turun," paparnya.
Selanjutnya
Halaman
1 2