Murtad dan Poligami Kini Jadi Tren Penyebab Perceraian di Blitar

Erliana Riady - detikNews
Minggu, 05 Jan 2020 10:31 WIB
Pengadilan Agama Blitar (Foto: Erliana Riady)
Blitar - Angka perceraian di Blitar makin tinggi. Namun ada fenonema baru yang menjadi pemicunya, yakni faktor poligami. Perempuan yang mandiri secara ekonomi memilih bercerai daripada dimadu oleh sang suami.

Di tahun-tahun sebelumnya, Pengadilan Agama (PA) Kelas 1A Blitar tidak menemukan faktor pemicu itu. Hanya masalah ekonomi, perselingkuhan, dan hubungan jarak jauh yang menjadi penyebab pasangan memutuskan mengurus perceraian.

Namun memasuki tahun 2020 ini, faktor poligami menduduki peringkat kelima selain tiga faktor tadi. Humas PA Kelas 1A Blitar, Mohammad Fadli mengungkapkan walaupun angkanya sedikit, namun ini menjadi fenomena baru pemicu timbulnya perceraian di Blitar.


"Iya ada fenomena baru. Kalau biasanya perceraian timbul karena faktor ekonomi. Tapi awal tahun ini ada dua faktor pemicu baru. Yakni murtad dan poligami," kata Fadli kepada detikcom, Sabtu (4/1/2020).

Dari sebanyak 4.365 permohonan perceraian yang masuk selama tahun 2019, ada 10 permohonan cerai karena poligami. Itupun yang menggugat adalah pihak istri.

Menurut Fadli, istri yang menolak dipoligami karena merasa mandiri secara ekonomi. Mereka rela melepaskan ikatan perkawinan dan mempersilakan suami menikah lagi dengan perempuan lain.


"Si istri tidak rela kalau diduakan. Karena mereka tidak tergantung secara ekonomi pada suaminya. Mereka bekerja sendiri dan punya penghasilan sendiri. Jadi istilahnya, lebih tatag, lebih berani memutuskan bercerai daripada dipoligami," ungkapnya.

Pengadilan Agama Kelas 1A Blitar mencatat tren kenaikan perceraian sejak akhir tahun 2019 lalu. Jika pada tahun 2018 hanya sebanyak 4.203 kasus, maka akhir 2019 naik menjadi sebanyak 4.365. Dari angka ini, gugat cerai yang diajukan istri sebanyak 3.151. Atau hampir dua kali lipat daripada talak cerai yang diajukan suami sebanyak 1.214 kasus. (iwd/iwd)