Korban Dugaan Pemerkosaan Aktivis Antikorupsi Berstatus Mahasiswi

Muhammad Aminudin - detikNews
Sabtu, 28 Des 2019 20:01 WIB
Pendamping korban pemerkosaan di Malang (Foto: Muhammad Aminudin/detikcom)
Malang - Dua perempuan yang disebut menjadi korban dugaan kekerasan seksual aktivis Malang Corruption Watch (MCW) berstatus mahasiswi.

Korban pertama yang disebut X datang dan mengenal pelaku untuk mencari data demi memenuhi tugas kuliah. Korban berikutnya disebut dengan Y merupakan jurnalis yang aktif di pers mahasiswa.

"Dua korban berstatus mahasiswi, satu merupakan jurnalis. Pertemuan awal dengan pelaku karena tugas peliputan. Sedangkan korban satunya bertemu dalam kebutuhan data untuk tugas kuliah," ungkap Dina Putri Pertiwi, pendamping korban kepada detikcom wartawan, Sabtu (28/12/2019) sore.

Dia menyebut, jika kedua korban kini tengah berada di luar kota. Kondisinya benar-benar tertekan atas beberapa hal yang terjadi belakangan ini.

"Kondisi korban down banget, belum stabil, dan posisinya sekarang tengah berada di luar Kota Malang," sebutnya.


Dia mengatakan pemulihan atas kondisi korban menjadi fokus utama. Sambil mencari langkah-langkah penyelesaian kasus pada ruang mediasi.

"Fokus sekarang adalah pemulihan korban. Cukup banyak tekanan hingga membuat korban down. Dan kita masih memikirkan langkah berikutnya, untuk penyelesaian kasus ini melalui ruang mediasi," terangnya.

Jika status korban dengan pelaku berinisial AF, tambah dia, adalah pacar dan kekerasan seksual yang diungkap, terjadi ketika hubungan asmara itu terjalin.

"Status korban dengan pelaku AF adalah pacar, ada konsensus selama hubungan berjalan. Terjadi paksaan dan itu merupakan kekerasan seksual, korban memiliki bukti-bukti untuk itu," ungkapnya.

Ditanya soal pertemuan dengan korban hingga menerima mandat sebagai pendamping ? Dina membeberkan, awal mulanya korban menghubungi dirinya melalui direct message (DM) di akun instagramnya.


"Saya awalnya tak mengenal korban, dia kirim DM di Ig. Barulah kemudian ada komunikasi dan korban menceritakan apa yang terjadi. Kami pendamping berjumlah 5 orang, yang merupakan perorangan tanpa ada lembaga," ujarnya.

Malang Corruption Watch (MCW) telah memberikan klarifikasi mengenai tuduhan dugaan kekerasan seksual oleh salah satunya anggotanya itu.

MCW berharap persoalan ini terselesaikan dengan tuntas, karena telah menyeret nama lembaganya. Tim khusus dibentuk untuk melakukan investigasi atas tuduhan yang sudah menyebar di media sosial itu.

"Jadi kami sudah bentuk tim untuk mencari dan mengungkap fakta yang sebenarnya terjadi seperti apa. Bukan kami menghalang-halangi atau menutup nutupi. Justru kami sangat terbuka, dan menginginkan masalah ini bisa tuntas," kata Koordinator Badan Pekerja MCW Fahrudin saat dikonfirmasi detikcom, Jumat (27/12/2019).


Tonton juga YLBHI Tak Setuju Pelaku Perkosa 9 Anak Dihukum Kebiri :

[Gambas:Video 20detik]

(fat/fat)