Kaleidoskop 2019

KLB Hepatitis A dan Perjuangan Keras Pacitan Menuntaskannya

Purwoto Sumodiharjo - detikNews
Kamis, 26 Des 2019 07:51 WIB
Salah satu sumber air yang dikonsumsi warga (Foto: Purwo Sumodiharjo)
Pacitan - Medio 2019 kabar mengejutkan terdengar dari Pacitan. Ratusan warga terserang wabah Hepatitis A. Awalnya kasus penularan ditemukan di 3 wilayah kecamatan bagian timur yakni Sudimoro, Ngadirojo, dan Tulakan.

Penyebaran penyakit itu begitu cepat. Hanya dalam hitungan hari, wabah merambah ke kecmatan lain seperti Kecamatan Kebonagung, Arjosari, dan Tegalombo.

"Kejadian ini harus kami tanggulangi dengan sikap yang luar biasa. Luangkan waktu, kesempatan, dan tenaga," tegas Kepala Dinas Ksehatan dr Eko Budiono dalam rekaman video advokasi teknis ke jajaran puskesmas yang dilihat detikcom, Sabtu (22/6/2019).

Dinas Kesehatan Pacitan pun melakukan langkah cepat. Eko menyebut aksi itu dengan istilah TASPEN. Singkatan tersebut merujuk pada 3 jenis penanganan. Yakni Tata Laksana Kasus yang Lebih Intensif serta Surveillance Epidemologi yang Lebih Akurat. Langkah berikutnya adalah Pengendalian Faktor Risiko.

Tak mau kasus berlarut-larut, Bupati Indartato akhirnya turun tangan. Tak sekadar menerima laporan, orang nomor satu di 'Bumi 1001 Gua' itu menjenguk pasien di puskesmas. Pak In lantas melaporkan ihwal wabah yang menimpa warganya ke Pemprov Jatim. Pemkab akhirnya menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB).


Pascapenetapan KLB, Pemkab Pacitan tak sendirian membasmi wabah yang juga disebut 'Penyakit Kuning' itu. Penanganan melibatkan pemerintah lebih atas. Penetapan status KLB sekaligus diharapkan lebih mengoptimalkan penuntasan penyakit akibat virus tersebut.

"Kalau memang ini memang harus KLB, ya kami KLB," kata Pak In saat ditemui wartawan di depan Halking (halaman wingking) Pendopo Kabupaten Pacitan, Selasa (25/6/2019).

Seluruh sumberdaya diturunkan untuk menghalau penularan Hepatitis A. Dinas Kesehatan melakukan mobilisasi personel dari Puskesmas yang tidak menangani pasien Hepatitis A ke Puskesmas yang menampung banyak pasien.

Menurut Kadinkes, dr Eko Budiono, penularan virus yang tergolong cepat harus disiasati dengan baik. Karena itulah beberapa puskesmas berinisiatif membeli sarana tes cepat molekuler. Piranti tersebut sangat bermanfaat untuk diagnosa awal infeksi.

Rupanya kelelahan fisik membuat stamina para petugas kesehatan menurun. Akibatnya, satu diantara mereka dinyatakan positif Hepatitis A. Penularan diduga terjadi setelah dirinya merawat pasien selama beberapa hari.
Selanjutnya
Halaman
1 2 3