Kata Nelayan Pacitan Wacana Ekspor Baby Lobster

Purwoto Sumodiharjo - detikNews
Sabtu, 21 Des 2019 17:10 WIB
Nelayan Pacitan tolak ekspor baby lobster (Foto: Purwoto Sumodiharjo/detikcom)
Pacitan - Wacana membuka kran ekspor baby lobster terus menuai beragam tanggapan. Nelayan Pantai Watukarung, Pacitan menolak rencana itu. Mereka beralasan habitat lobster akan punah jika benur dibiarkan ditangkap dan dijual bebas.

"Ndak setuju. Ndak setuju kalau lobster masih kecil-kecil ditangkap, ndak setuju saya," ucap Sumarno (50) nelayan penangkap lobster kepada detikcom di Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Watukarung, Sabtu (21/12/2019) siang.

Penolakan Sumarno bukan tanpa alasan. Jika saat masih berupa benur sudah diambil, dirinya khawatir rantai perkembangbiakan lobster akan terputus. Sehingga lobster dewasa menjadi langka. Tentu saja, Sumarno dan rekan-rekannya terancam kehilangan pekerjaan.

"Seumpamanya (lobster) kecil-kecil diambil istilahnya itu mengurangi bibit. Kalau (lobster) sudah besar memang ndak ada larangannya itu," tandasnya.

Di mata nelayan tradisional seperti Sumarno, kebijakan melarang pengambilan benur yang dijalankan selama ini sudah tepat. Di sisi lain saat masih dilarang pun, masih ada nelayan yang nekat berburu bayi lobster. Padahal risikonya harus berhadapan dengan hukum.


"Lha terus (kalau benur diambil) besok apa yang saya makan? Anak saya, cucu saya. Itu kan ndak ada (lobster lagi)," keluh warga Dusun Gumulharjo tersebut sembari berkemas usai melaut.

Keresahan juga dirasakan Kelompok Usaha Bersama (KUB). Paguyuban nelayan beranggotakan 125 orang tersebut keberatan jika wacana itu jadi dilaksanakan. Pihak KUB berharap larangan penangkapan baby lobster tetap diberlalukan.

Ketua KUB Sidorukun I Desa Watukarung, Giyatno mengaku tak ada anggotanya yang menangkap benur. Bahkan di antara para nelayan selama ini terlibat aktif dalam pemantauan perairan. Sehingga wilayah tangkapan bebas dari ulah pemburu benur.

"Sangat prihatin sekali. Karena apa? Karena bayi benur yang sebenarnya tidak boleh diperjualbelikan itu harus dikendalikan. Tetap sampai kapanpun dikendalilan," tegas Giyatno dengan mimik serius.

Jangankan sampai diekspor, menurut bapak 2 anak itu, budidaya lobster pun sebaiknya tidak dilakukan. Akan lebih baik jika lobster dibiarkan hidup di habitatnya. Dengan begitu binatang bercangkang keras itu dapat bebas berkembang biak secara alami.

"Biar nelayan itu menangkap (lobster) yang sesuai dengan ukuran. Kalau dulu aturannya di atas 2 ons yang boleh ditangkap, biarlah itu yang ditangkap," kata Giyatno seraya menyebut sepertiga anggota kelompoknya merupakan nelayan penangkap lobster dewasa.




Tonton video Penyelundupan Benih Lobster Rp 66 Miliar ke Singapura Digagalkan!:

[Gambas:Video 20detik]

(fat/fat)