Kepala Sekolah Didorong Tunjukkan Kreativitas dan Jiwa Entrepreneurship Siswa

Ardian Fanani - detikNews
Rabu, 11 Des 2019 18:03 WIB
Bupati Anas di depan kepala sekolah (Ardian Fanani/detikcom)
Bupati Anas di depan kepala sekolah (Ardian Fanani/detikcom)
Banyuwangi - Sekolah mempunyai peran strategis menciptakan anak didik yang kreatif dan berjiwa entrepreneur. Syaratnya, kepala sekolah dan guru selaku pendidik mampu mengarahkan sekaligus memfasilitasi anak-anak secara tepat.

"Dua hari lalu saya bertemu dengan sejumlah kepala sekolah. Saya tekankan kepada mereka, anak-anak tidak hanya butuh bekal akademis, namun juga perlu bekal untuk hidup mandiri di masa depannya. Karena itu, perlu ditumbuhkan jiwa kreatif dan entrepreneurship-nya sejak dini," kata Bupati Abdullah Azwar Anas saat dihubungi detikcom, Rabu (11/12/2019).

Bupati Abdullah Azwar Anas mengatakan anak-anak yang saat ini masih mengenyam pendidikan dasar akan menghadapi tantangan yang kian berat saat mereka lulus dari bangku sekolah kelak. Persaingan ekonomi akan semakin ketat di tengah terbatasnya peluang kerja formal.

"Terlebih kalau anak-anak tidak memiliki kesempatan melanjutkan sekolah ke jenjang perguruan tinggi. Persaingan itu akan semakin berat," kata Bupati Anas.

Untuk itu, lanjut Anas, anak-anak muda daerah harus sedini mungkin diberi bekal yang cukup untuk menghadapi masa depannya. Salah satunya dengan merangsang kreativitas dan jiwa entrepreneur-nya. Dan ini membutuhkan komitmen serius dari kepala sekolah sebagai penentu kebijakan di sekolah.


"Kepala sekolah sebagai manajer yang mengatur kegiatan di sekolah harus bisa menciptakan iklim kreativitas itu kepada guru yang nantinya akan dilanjutkan ke anak-anak didiknya," kata Anas.

"Jadi, sebelum para guru dan anak-anak didiknya bisa kreatif dan berjiwa entrepreneur, kepala sekolahnya dulu yang mencontohkan dan memberikan motivasi," kata Anas.

Ada beberapa model sekolah yang bisa dicontoh oleh para kepala sekolah tersebut, yakni di sejumlah sekolah khususnya yang berbasis pesantren. Anak-anak didik tidak hanya dibekali ilmu pengetahuan agama dan akademik formal, tapi juga dilatih berwirausaha.

"Seperti membuat roti, usaha laundry, membatik, dan sebagainya. Minimal bisa memberikan pengenalan berbagai jenis usaha yang bisa dikerjakan setelah lulus sekolah. Agar mindset siswa ketika lulus tidak melulu harus bekerja kantoran. Entrepreneur juga peluang yang bagus," beber Anas.

Selain itu, Pemkab sudah menerapkan pendidikan keterampilan berbasis potensi wilayah di beberapa sekolah dasar daerah. Salah satunya di SD-SD di kawasan perkebunan di Gombengsari. Sekolah mendapatkan bantuan mesin roasting kopi untuk memberikan wawasan kepada siswa tentang mengolah kopi yang baik.

"Jadi anak-anak sejak dini tahu ada potensi di sekitar lingkungannya yang bisa dikembangkan, yang bernilai ekonomi. Mereka juga diajari cara menyajikan kopi yang baik, minimal sudah punya keterampilan basic saat lulus dan masih bisa didalami lagi," ujar Anas. (fat/fat)