Salurkan Air ke Daerah Kekeringan, Ini yang Dilakukan Polisi di Pacitan

Purwoto Sumodiharjo - detikNews
Kamis, 05 Des 2019 19:11 WIB
Polres Pacitan menyalurkan air bersih ke Bandar (Foto: Purwo Sumodiharjo)
Polres Pacitan menyalurkan air bersih ke Bandar (Foto: Purwo Sumodiharjo)
Pacitan - Kekeringan masih melanda Pacitan. Puluhan desa di Kota 1001 Gua pun mengalami krisis air bersih. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, warga mengandalkan pasokan air dari tangki keliling.

Tergerak meringankan beban warga, Polres Pacitan nekat menyulap mobil Bhabinkamtibmas menjadi tangki. Kendaraan jenis pikap tersebut selanjutnya digunakan menyalurkan air bersih ke kantong-kantong kekeringan.

"Mobil patroli tersebut dimodifikasi dengan diletakkan tangki air (di atas bak). Mesin penyedot air juga sudah kami sampaikan ke polsek agar dimanfaatkan untuk masyarakat," terang Kapolres Pacitan AKBP Sugandi saat bakti sosial di Desa Ngunut, Kecamatan Bandar, Kamis (5/12/2019) siang.

Upaya tersebut, lanjut Sugandi, sekaligus bertujuan membantu pemerintah kabupaten dalam mendistribusikan air bersih kepada warga yang membutuhkan. Rencananya, sistem tersebut akan direplikasi di polsek-polsek lain.


Nantinya, para kapolsek maupun Bhabinkamtibmas dapat menggunakan kendaraan patroli milik polsek untuk kegiatan serupa. Mereka dapat mengambil air dari sumber terdekat. Selanjutnya dapat langsung disalurkan ke permukiman warga.

"Karena (mobil) ukurannya kecil, jadi lebih lincah dan diharapkan bisa langsung menembus sampai ke permukiman. Bahkan di pelosok sekalipun," tutur Sugandhi didampingi istri beserta Kapolsek Bandar Iptu Sugeng Rusly.

Selain memanfaatkan mobil patroli menjadi armada pengangkut air, polisi menempatkan 2 unit tandon lengkap dengan mesin penyedot. Sarana menampung air tersebut masing-masing berkapasitas 2.000 liter. Perangkat tersebut berfungsi menampung sementara dropping air sebelum warga mengambilnya.

Misti (50), warga Dusun Bubakan, Desa Ngunut, mengaku sangat terbantu oleh fasilitas baru tersebut. Akses menuju penampungan air yang semakin mudah dengan sendirinya mengurangi ongkos pembelian air.


Perempuan yang tiap hari bekerja sebagai buruh tani tersebut mengaku, selama ini menghabiskan 2 tandon air per bulan. Padahal itu hanya digunakan untuk minum dan memasak. Sedangkan untuk keperluan mandi, dirinya menggunakan sisa air sumber. Tentu saja debitnya jauh dari cukup.

"Itu cuma untuk minum dan masak. Nyuci ndak. Kalau mandi ke belik (sumber air)," ucap Misti saat berbincang dengan detikcom saat mengantre pembagian air.

Untuk diketahui, harga air tiap tandon mencapai Rp 80 ribu. Saat kemarau panjang seperti saat ini, tentu saja kebutuhan air berlipat ganda. Hal tersebut memaksa Misti dan warga lain lebih sering merogoh kocek. Pengeluaran pun jauh lebih besar. (iwd/iwd)