Dampingi Mentan, Khofifah Lepas Ekspor Komoditas Pertanian Jatim Rp 805 M

Dampingi Mentan, Khofifah Lepas Ekspor Komoditas Pertanian Jatim Rp 805 M

Hilda Meilisa - detikNews
Selasa, 03 Des 2019 11:59 WIB
Ekspor produk Jatim yang dilepas Mentan senilai Rp 805 M (Foto: Istimewa)
Ekspor produk Jatim yang dilepas Mentan senilai Rp 805 M (Foto: Istimewa)
Surabaya - Komoditas produk pertanian Jawa Timur senilai Rp 805 miliar diekspor ke luar negeri oleh Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo. Gubernur Khofifah Indar Parawansa turut mendampingi.

Produk pertanian yang diekspor ini mulai kopi, bunga cengkeh, pupuk organik, kayu manis, sarang burung walet, bunga pala, shuttlecock, plywood, susu hingga minyak goreng. Kesemuanya dikirimkan melalui jalur laut dengan tujuan Brasil, Singapura, Italia, Australia, Malaysia, Filipina, Belanda, Thailand, hingga Algeria.

Nilai ekspor Jatim yang dilepas mengalami peningkatan. Bahkan peningkatannya mencapai 100 persen dibandingkan angka ekspor tahun lalu. Ini membuktikan komoditas pertanian Jatim memiliki potensi tinggi.

"Hari ini saya dan Ibu Gubernur dengan bangga membuktikan bahwa sebenarnya kita memiliki ruang yang cukup besar untuk menjadi bagian dari energi ekonomi nasional. Sore ini kurang-lebih kita ekspor senilai Rp 805 miliar, angka sebesar ini mampu kita gulirkan," kata Mentan Syahrul Yasin Limpo dari siaran pers yang diterima detikcom di Surabaya, Selasa (3/12/2019).

Produk pertanian Jatim yang dilepas untuk ekspor dikirimkan ke banyak negara tujuan. Misalnya untuk bunga cengkeh sebanyak 10 ton dengan nilai Rp 877 juta diekspor ke Brasil.


Sedangkan untuk biji kopi robusta sebanyak 46 ton diekspor ke Italia dengan nilai Rp 1,02 miliar. Ada juga pupuk organik sebanyak 54 ton senilai Rp 119,2 juta diekspor ke Singapura.

Lalu, jamur beku sebanyak 20,7 ton dikirim ke Belanda dengan nilai Rp 253 juta. Serta plywood sebanyak 255,5 ton dikirim ke Malaysia dan Filipina dengan nilai Rp 2 miliar.

Syahrul menyebut pencapaian ekspor Jatim patut diapresiasi. Selain nilainya meningkat 100 persen dibanding tahun sebelumnya, dari segi volume juga mengalami peningkatan sebesar 23 persen.

Untuk produk yang dilakukan sertifikasi ekspor juga mengalami peningkatan 8 persen. Jatim juga menjadi daerah zero atau nol penolakan dari negara tujuan setiap kali melakukan ekspor.

"Itu tandanya kita sudah bekerja dengan kompak. Ini dibuktikan melalui pelabuhan Tanjung Perak sebagai pintu ekspor Jatim yang mengalami penolakan sangat kecil dari negara tujuan," lanjut Syahrul.


Untuk itu, Syahrul ingin ekspor ini harus ditingkatkan dan diteruskan. Dia berharap kegiatan ekspor melalui pelabuhan Tanjung Perak bisa semakin lancar dan tidak ada kendala-kendala yang menjadi penghambat pengiriman komoditas lokal ke luar negeri.

"Target kita di tahun 2020, kita akan mulai untuk menggerakkan ekspor kita bisa meningkat tiga kali lipat. Target ini saya rasa tidak berlebihan dengan melihat tren yang ada sekarang ini," imbuhnya.

Sementara itu, Gubernur Khofifah menyebut, selain produk pertanian, pihaknya juga mendorong peningkatan ekspor produk handycraft. Sebab, produk hasil rumah kriya Jatim memiliki potensi yang tak kalah besar dari sektor pertanian.

Khofifah menyebut hanya tinggal butuh pembinaan terkait quality control, continuity, serta quantity produk untuk bisa masuk ke pasar ekspor.

Selain itu, Khofifah mengapresiasi adanya mobil pelayanan mobile dari Kementan, yaitu mobil layanan Berani Ekspor. Mobil ini akan memfasilitasi pengusaha yang akan melakukan ekspor. Menurut Khofifah, saat ini belum seluruhnya produsen skala menengah bisa terkonsolidasi aksesnya untuk masuk pasar ekspor.

"Seperti apa saja syarat-syaratnya untuk bisa dapat sertifikasi ekspor, mobil ini bisa melakukan proses sosialisasi literasi untuk edukasi ekspor dengan lebih masif. Saya rasa itu akan membuka harapan seperti yang dikatakan Pak Mentan, targetnya adalah ekspor 3 kali lipat dari yang sekarang ada," ungkap Khofifah.

Khofifah optimistis target peningkatan ekspor dari Jawa Timur hingga tiga kali lipat bisa terwujud. Untuk bisa membangun perekonomian yang bisa tumbuh secara signifikan, menurut Khofifah, memang harus ada upaya menjaga stabilitas keamanan dan meningkatkan suasana ekonomi yang kondusif dan produktif.

"Seperti yang dipesankan Pak Presiden, tingkatkan ekspor buka lapangan kerja sebanyak-banyaknya. Itu artinya bahwa suasana pertumbuhan ekonomi Jawa Timur harus terjaga dan berarti di semua lini, mulai privat sektornya, regulasinya, bupati-wali kotanya, dan semuanya harus berseiring," lanjutnya. (hil/iwd)