detikNews
Minggu 01 Desember 2019, 10:33 WIB

Perkumpulan Dokter Kampanye Peringati Hari AIDS Sedunia di Car Free Day

Hilda Meilisa - detikNews
Perkumpulan Dokter Kampanye Peringati Hari AIDS Sedunia di Car Free Day Foto: Hilda Meilisa Rinanda
Surabaya - Memperingati Hari AIDS Sedunia, Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia atau PERDOSKI cabang Surabaya pagi ini menggelar kampanye di Car Free Day (CFD) Taman Bungkul.

Kampanye ini dilakukan sebagai pencegahan Infeksi Menular Seksual (IMS), pencegahan HIV dan AIDS hingga konsultasi gratis masalah kulit dan kelamin. Aksi yang bekerja sama dengan Kelompok Studi Infeksi Menular Seksual Indonesia (KSIMSI) ini dilakukan melihat banyaknya angka penderita AIDS di Jawa Timur.

Ketua PERDOSKI Surabaya dr. Ary Widhyasti Bandem mengatakan angka penderita HIV/AIDS di Jatim menduduki posisi ke dua nasional.

"Bentuk acaranya meningkatkan kewaspadaan dan kepedulian masyarakat akan HIV/AIDS. Jatim menduduki tempat nomor dua tertinggi, organisasi profesi ingin berpartisipasi menyukseskan triple zero eliminasi yang dicanangkan pemerintah," kata Ary di sela kampanye di CFD Taman Bungkul Jalan Raya Darmo Surabaya, Minggu (1/12/2019).


Ary menambahkan pihaknya ingin membantu menyukseskan program pemerintah yang targetnya pada 2030 sudah tak ada lagi kasus HIV hingga tak terjadi diskriminasi terhadap Orang Dengan HIV AIDS (ODHA).

"Kami ingin menyukseskan program pemerintah di mana 2030 tidak ada kasus HIV baru, tidak ada kematian yang berhubungan dengan HIV AIDS dan tidak ada diskriminasi," imbuhnya.

Tak hanya itu, Ary menambahkan pihaknya selama ini juga kerap menggelar simposium hingga workshop untuk memberikan masyarakay pemahaman akan HIV/AIDS. Selain itu, hal ini untuk mengingatkan masyarakat untuk tak lagi takut memeriksakan diri.

"Sebenarnya kami rutin mengadakan simposium, workshop, hampir beberapa kali dalam setahun. Di Surabaya mulai Juli kita sudah menyelengarakan sharing. Kita di setiap kesempatan selain meningkatkan kewaspadaan hari ini kita tambahkan lagi dengan kampanye yang melibatkan dokter spesialis kulit. Jangan takut untuk periksa HIV," imbuhnya.

Pemeriksaan ini, lanjut Ary, sangat penting karena penderita HIV kadang tak menyadari jika dirinya terjangkit virus. Jika HIV sudah diketahui sejak awal, pengobatan maksimal juga bisa dilakukan sejak dini.


"Yang benar kita harus mengecek status kita. Pada waktu check up harus dicheck. Secara global sebetulnya kita harus cek status HIV kita. Kita harus mengecek apa kita positif HIV. Karena ini kan ndak ada gejalanya pas awal, kita bisa ke rumah sakit, puskesmas. Nanti akan diberi tahu pengobatannya bagaimana, dan tidak menular," imbuhnya.

Di kesempatan yang sama, Ketua Panitia dr Ita Puspita Dewi mengatakan stadium 1 penderita HIV kadang masih merasa sehat. Untuk itu pengecekan menjadi hal yang penting.

"Beberapa pasien ndak merasa karena dia merasa sehat. Biasanya di stadium 1 dia ndak merasa apa-apa. Baru nanti stadium 2 ada gejala. Stadium 3 ada diare yang lama. Stadium 4 dia berbaring sudah ndak apa. Jadi sekarang ndak usah khawatir karena sudah ada pengobatannya. Dia bisa datang ke rumah sakit dan puskesmas. Di semua rumah sakit pemerintah itu ada, bahkan tesnya gratis," pungkas Ita.
(hil/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com