detikNews
Senin 18 November 2019, 20:27 WIB

DPRD Banyuwangi Kunjungi Warga Terdampak Penggusuran

Ardian Fanani - detikNews
DPRD Banyuwangi Kunjungi Warga Terdampak Penggusuran Foto: Ardian Fanani
Banyuwangi - DPRD Banyuwangi mengunjungi warga terdampak penggusuran dan eksekusi lahan di Jalan Kepiting, Kelurahan Tukangkayu, Banyuwangi. Wakil rakyat itu datang untuk mendengar aspirasi 46 pemilik rumah korban eksekusi.

Wakil Ketua DPRD Banyuwangi Michael Edy Hariyanto memimpin anggota lintas fraksi. Adapula Bernard Sipahutar (Nasdem) Umi Kulsum (Golkar), Neni Viantin (PKB), Yuseini (Demokrat) dan Ali Mustofa (Nasdem), turut serta dalam kunjungan tersebut.

Saat dikunjungi, warga masih menghuni tenda darurat yang dibuat sendiri. Banyak juga perabot rumah tangga yang berserakan. Sejauh mata memandang terlihat tumpukan material bangunan sisa eksekusi yang dibiarkan menumpuk.

"Dulu pernah dijanjikan uang kerohiman Rp 20 juta. Namun dari jumlah itu ada yang dikasih Rp 5 juta dulu untuk cari kos sementara. Akhirnya warga bertahan di lokasi takut sisanya tak dikasih," cerita Suamnah (59), salah satu warga, kepada para wakil rakyat.

Lelaki berdarah Madura ini mengaku bertahan lantaran tak punya pilihan lain. Lahan yang dieksekusi merupakan tempat satu-satunya yang dimiliki. Sementara saudara terdekat tinggal di Bondowoso yang jaraknya 3 jam perjalanan dari Banyuwangi.


"Rata-rata yang bertahan di sini ekonomi minus. Kerjanya buruh cuci, tukang cendol, tukang pijat, dan kuli bangunan," ungkapnya.

Kedatangan Michael dan kawan-kawan membuat Suamnah sedikit lega. Setidaknya wakil rakyat masih ingat pada konstituennya, rakyat. Sejak eskavator merobohkan bangunan tinggalnya pada pekan lalu, dirinya mengaku sakit hati lantaran tak satupun wakil pemerintah datang menguatkan batin mereka yang hancur.

Michael pun kecewa. Legislator asal Desa Karangbendo, Kecamatan Rogojampi ini menyesalkan sikap pemerintah yang acuh terhadap nasib 36 KK korban penggusuran. Mestinya pemerintah hadir di tengah warga yang susah.

"Nanti kami direkomendasikan kepada Ketua DPRD I Made Cahyana Negara supaya memanggil lurah dan camat," lontarnya usai berbincang dengan warga di kursi tamu yang tertata di bawah pohon mangga.

Apalagi warga korban penggusuran sengaja bertahan tinggal di bawah tenda lantaran tidak punya lahan lain untuk ditinggali. Setidaknya pemerintah datang untuk mencarikan solusi.

"Kami akan suarakan untuk rakyat. Banyuwangi ada rusunawa, nanti kita akan bicara dengan pemerintah," pungkasnya.


Pengadilan Negeri Banyuwangi mengeksekusi lahan seluas 2,4 hektare di Jalan Kepiting, Banyuwangi. Eksekusi itu dilakukan setelah RM Suwoyo alias Gatot memenangi gugatan hingga ke MA. Sesuai dengan putusan MA tanggal 26 Agustus 1999 nomor 2017 K/Pdt/1996 jo Putusan Pengadilan Tinggi Jawa Timur 30 Oktober 1995 no 419/Pdt/1995/PT. SBY juncto Putusan Pengadilan Negeri tanggal 15 Desember 1994 nomor 45/Pdt. G/1994/PN.BWI

Aksi eksekusi itu berjalan dramatis. Sejumlah warga melakukan penolakan dengan melempari petugas penggusuran menggunakan bebatuan dan kotoran sapi. Kondisi ini membuat operator alat berat mundur dan menghentikan proses pembongkaran bangunan, Rabu (13/11/2019).

Pascaeksekusi 46 rumah di Banyuwangi, warga masih bertahan di lokasi penggusuran. Mereka masih meletakkan barang perabotan di tengah jalan, akses Jalan ditutup.

Pascaeksekusi di Jalan Kepiting Banyuwangi, warga yang rumahnya digusur masih nekat menghuni lahan yang sudah rata dengan tanah. Kini mereka mulai terkena demam
(iwd/iwd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com