Ini Kata Pertamina dan ESDM Jatim Soal Kelangkaan Solar di Jawa Timur

Ini Kata Pertamina dan ESDM Jatim Soal Kelangkaan Solar di Jawa Timur

Hilda Meilisa - detikNews
Senin, 18 Nov 2019 12:53 WIB
Foto: Hilda Meilisa Rinanda
Foto: Hilda Meilisa Rinanda
Surabaya - Pertamina dan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut kelangkaan solar yang terjadi beberapa hari ini di wilayah Jatim akibat adanya panic buying. Panic buying ini berawal dari informasi kelangkaan solar di satu SPBU dan berdampak ke yang lain.

Kepala Dinas ESDM Jatim Setiajit mengatakan kini pasokan solar di Jatim kembali normal. "Hari ini Insya Allah sudah normal. Kasus kelangkaan dipicu dari satu SPBU, berita menjadi muncul dan terjadi panic buying," kata Setiajit saat konferensi pers di Kantor Gubernur Jatim Jalan Pahlawan Surabaya, Senin (18/11/2019).

Sementara saat disinggung adanya surat edaran terkait pembatasan penjualan solar, Setiajit menyebut edaran ini telah dicabut. Sebelumnya, edaran ini dikeluarkan untuk membatasi truk-truk industri dan truk yang mengangkut barang-barang tambang.

"Pada akhir bulan Oktober kuota untuk bahan bakar premium maupun solar subsidi telah melebihi kuota yang ada. Namun demikian BPH Migas dengan Pertamina sepakat melayani sesuai kebutuhan masyarakat. Jadi tidak benar kalau ada pembatasan dari tanggal 14. Surat edaran sudah dibatalkan. Tadi sudah dijelaskan solar dan premium bersubsidi sudah jelas penggunanya," tambah Setiajit.


Sementara General Manager (GM) Pertamina MOR V, Werry Prayogi juga mengatakan hal yang senada. Dia menyebut panic buying ini berawal dari informasi di masyarakat tentang kelangkaan solar.

Akibatnya, masyarakat khususnya sopir angkutan mulai panik dan membeli solar dalam jumlah banyak. Antrean pun mengular dan tidak terhindarkan.

"Jadi gini, panic buying itu pembelian yang dipicu rasa khawatir terbatasnya barang yang akan dibeli. Ini berasal dari informasi yang beredar dan untuk mengamankan diri. Para sopir truk membeli solar dari yang tidak seperti biasanya. Biasanya truk kalau isi 200 liter ini jadi 300 liter. Karena terpicu informasi akhirnya dipenuhi aja biar aman," papar Werry.

Selain itu, Werry menyebut panic buying ini mengakibatkan pasokan solar di beberapa SPBU habis. Misalnya saat hari biasa, SPBU menjual hanya 10 ribu liter solar, namun beberapa hari ini mencapai 15 liter solar.

"Kami mengamati dari kejadian itu yang tadinya menjual solar 10 ribu liter jadi 15 ribu dan ini dipicu panic buying. Efeknya dengan barang yang selama ini cukup, menjadi seperti ini. Itu maksudnya panic buying menciptakan distorsi informasi," ucap Werry.



Solar di Bojonegoro Langka, Kendaraan Menumpuk di SPBU:

[Gambas:Video 20detik]



(hil/fat)