Khofifah Apresiasi Pemkab Bojonegoro dalam Tangani Dampak Angin Kencang

Ainur Rofiq - detikNews
Selasa, 12 Nov 2019 21:02 WIB
Gubernur Khofifah mengunjungi korban puting beliung di Bojonegoro. (Ainur Rofiq/detikcom)
Gubernur Khofifah mengunjungi korban puting beliung di Bojonegoro. (Ainur Rofiq/detikcom)
Bojonegoro - Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengapresiasi langkah cepat Pemkab Bojonegoro dalam menangani dampak angin kencang. Peristiwa itu terjadi berturut-turut pada Sabtu (9/11) dan Senin (11/11).

Untuk mempercepat pemulihan situasi dan kondisi, Khofifah mengatakan Pemprov Jawa Timur siap memberikan bantuan kepada warga yang terdampak. "Kami mengapresiasi langkah Pemkab Bojonegoro atas kesigapannya menangani bencana angin kencang yang terjadi di wilayahnya. Untuk mendukung hal ini, Pemprov Jatim juga siap membantu guna mempercepat pemulihan," tutur Gubernur Khofifah di Desa Prambatan, Balen, Bojonegoro, Selasa (12/11/2019).

Pada kunjungan tersebut, Khofifah didampingi sejumlah pejabat, antara lain Bupati Bojonegoro Anna Muawanah, Wakil Bupati Budi Irawanto, dan Kapolres Bojonegoro AKBP Ary Fadli. Kemudian Kadinkes serta Kepala PU Cipta Karya Jatim, Kepala BPBD Jatim, Kepala Biro Umum, dan Kepala Bakorwil Bojonegoro.


Khofifah menjelaskan, berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro, akibat angin kencang yang terjadi pada Sabtu (9/11), ada 1.377 yang rumah rusak dengan kategori beragam.

Rumah yang rusak berat berjumlah 32 unit. Rusak sedang 181 unit dan rusak ringan mencapai 1.164 unit. Sedangkan soal kerusakan infrastruktur lain, BPBD juga mengidentifikasi 7 unit fasilitas sosial dan pendidikan mengalami kerusakan.

Kerusakan rumah tersebut tersebar di 51 desa dalam 12 kecamatan di Bojonegoro, yaitu Kecamatan Bojonegoro, Kapas, Balen, Sumberrejo, Trucuk, Kalitidu, Dander, Ngasem, Ngambon, Margomulyo, Gayam, dan Kepohbaru.

Sedangkan pada peristiwa angin kencang yang terjadi Senin (11/11), ada 53 rumah rusak dengan kategori beragam. Untuk kategori rumah rusak berat sebanyak 12 unit, rusak sedang 4 unit, dan rusak ringan 37 unit.

Kerusakan tersebut tersebar di 36 desa dalam 12 kecamatan, yakni Kecamatan Temayang,Dender, Kalitidu, Sugihwaras, Sukosewu, Kapas, Ngraho, Ngasem, Tambarkrejo, Purwosari, Gayam, dan Padangan.

Terkait rumah warga yang mengalami kerusakan, Khofifah meminta OPD terkait segera mendata dan mencocokkan dengan Pemkab Bojonegoro agar bisa dilakukan identifikasi. Selain itu, pos pengungsian yang memadai harus disediakan, khususnya bagi korban yang masuk kategori rumah rusak berat.


"Saat ini, Tim Reaksi Cepat BPBD Provinsi Jawa Timur telah bergabung dengan tim dari Bakorwil Bojonegoro untuk melakukan dukungan asesmen. Khususnya untuk rekonstruksi rumah yang rusak sedang dan berat," lanjut mantan Menteri Sosial itu.

Menurut Khofifah, penguatan konstruksi rumah tinggal masyarakat perlu segera dilakukan. Selain itu, rumah tinggal yang tidak layak huni harus segera di-update menjadi rumah tinggal layak huni (rutilahu).

"Rumah-rumah tersebut diharapkan bisa terdata sebagai rutilahu, dan ini perlu segera kita lakukan. Selain pemprov, untuk menyukseskan program ini tentunya pemkab juga harus bisa menjadi ujung tombaknya," imbuhnya.

Berdasarkan hasil analisis BMKG, tambah Khofifah, kejadian hujan es dan disertai dengan angin kencang yang berlangsung di Bojonegoro dan sekitarnya akibat adanya pertumbuhan awan kumulonimbus yang cukup signifikan. Dengan suhu puncak awan mencapai -69 hingga -100 Celsius.

Pertumbuhan awan kumulonimbus ini disebabkan oleh adanya pola belokan angin di wilayah Jawa Timur dan didukung dengan kondisi atmosfer yang cukup labil dan lembap. Serta adanya aktivitas penguapan yang cukup tinggi di sekitar Laut Jawa bagian utara dan Selat Madura.


Sementara itu, berdasarkan siaran pers dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tercatat dari Januari hingga November 2019, jumlah angin kencang merupakan kejadian tertinggi dibanding jenis bencana lain. Sebanyak 1.010 kejadian puting beliung terjadi sepanjang tahun ini. Kejadian puting beliung telah mengakibatkan korban meninggal dunia 13 jiwa, luka-luka 187, dan mengungsi 41.429. Sedangkan terkait kerusakan permukiman akibat bencana ini mencapai 1.865 unit rusak berat, 3.134 rusak sedang, dan 18.211 rusak ringan.

Masih berdasarkan keterangan dari BNPB, angin kencang biasanya terjadi saat pergantian musim. Dari musim kemarau ke musim hujan atau sebaliknya. Untuk itu, seluruh warga masyarakat diimbau untuk tetap waspada dalam menghadapi potensi bahaya angin kencang.

Pada kunjungan tersebut, Gubernur Khofifah juga memberikan bantuan kepada warga yang terdampak angin kencang di Bojonegoro. Antara lain berupa paket sembako, 1.350 terpal, paket sandang, alat kebersihan, dan barang keperluan anak-anak. (sun/bdh)